SketsaNusantara.id - Bencana banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Sumatra kembali membuka mata publik mengenai persoalan ekologis yang selama ini terus diperingatkan para aktivis dan pegiat lingkungan.
Di tengah situasi yang memprihatinkan ini, Jombang Santani Khairen, novelis muda yang dikenal luas sebagai JS Khairen, memutuskan pulang kampung untuk melihat langsung kondisi masyarakat serta memberikan bantuan di lapangan.
Dilansir SketsaNusantara.id dari sejumlah unggahan di Instagramnya @js_khairen, Khairen tidak hanya menyampaikan laporan situasi, tetapi juga kritik tajam mengenai minimnya tanggung jawab pihak terkait. Unggahannya menjadi sorotan karena memuat pesan-pesan yang menggugah.
“Tidak ada bencana nasional, kata pejabat. Ada kepedulian nasional, kata rakyat,” tulis JS11 Khairen dalam caption unggahannya.
Ungkapan itu ia sampaikan saat berdiri di antara hamparan lumpur dan pohon tumbang, simbol nyata kerusakan lingkungan dan dampak ekstrem yang ditanggung masyarakat.
Khairen bercerita bahwa ia baru saja kembali dari Padang untuk keperluan survei film dari novel Dompet Ayah Sepatu Ibu. Namun, perjalanan itu berubah menjadi awal dari kabar buruk.
“Minggu lalu, saya baru pulang dari Padang. Kami take off saat hujan lebat mulai melanda. Patah hati rasanya kampung dilanda banjir lumpur,” tuturnya.
Sehari setelah ia kembali, informasi longsor dan banjir besar segera menyusul. Khairen mengaku gelisah dan langsung terhubung dengan beberapa rekannya seperti Praz Teguh dan tim relawan dari Kitabisa.
Sesampainya di kampung halaman, ia harus berhadapan dengan pemandangan yang jauh dari kata ideal.
“Hari ini saya mendarat pagi, disambut laut keruh penuh gelondongan. Juga disambut protokoler pejabat yang menyebalkan sejak turun pesawat,” ungkapnya.
Ia bahkan menegur sikap para pejabat yang mendapat perlakuan khusus, menegaskan bahwa prioritas harusnya diberikan kepada masyarakat terdampak.