"Udah selesai nih pengalihan isu nya," sindir @0831.3558.
Isu penggunaan dana negara menjadi salah satu topik yang paling ramai dibicarakan. Bagi sebagian masyarakat, jumlah Rp6,7 miliar untuk produksi animasi dengan kualitas yang dinilai rendah adalah bentuk pemborosan. Apalagi, proyek ini semula dipromosikan sebagai salah satu sajian hiburan bertema nasionalisme di peringatan Hari Kemerdekaan.
Banyak yang mempertanyakan ke mana arah dan pengawasan dana tersebut. Fakta bahwa film akhirnya batal tayang semakin memicu rasa frustrasi publik terhadap akuntabilitas penggunaan anggaran negara.
Kritik terhadap kualitas grafis Merah Putih One For All sudah beredar sejak trailer film dirilis. Beberapa netizen membandingkannya dengan standar animasi internasional maupun animasi lokal yang lebih matang.
Komentar seperti, "Mampus, ngapain animasi mentah ditayangin," menggambarkan kekecewaan publik yang menganggap hasil akhirnya tidak sebanding dengan dana yang dikeluarkan.
Selain masalah dana dan kualitas, proyek ini juga diterpa dugaan pelanggaran hak cipta. Beberapa warganet mengklaim bahwa desain karakter dalam film ini mirip atau bahkan identik dengan aset digital yang tersedia di pasaran dan mungkin digunakan tanpa izin. Isu ini sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial sebelum akhirnya kabar pembatalan tayang diumumkan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!