Perjalanan Nasirun untuk menjadi seniman terpandang tidak diperoleh secara instan. Di masa-masa awalnya, ia gigih membentuk karakter dan identitas visualnya sendiri.
Gaya lukis Nasirun sangat khas, ekspresif, berani dalam sapuan warna, namun kaya akan ornamen kearifan lokal. Ia secara mahir memadukan simbol-simbol wayang, mitologi Jawa, dan spiritualitas ke dalam narasi sosial modern.
Tidak hanya melukis di atas kanvas besar, ia juga menggunakan media kayu, mengukir kaligrafi, tasawuf hingga cerita rakyat menjadi karya-kerya yang berbicara tentang identitas, kekuasaan dan kemanusiaan yang menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini.
Sepanjang hidupnya, Nasirun menghasilkan ratusan karya, di antaranya yang paling dikenal adalah Jailangkung (2014), Ibu Pertiwi (2015), Sultan Seni Rupa (2014) dan Arjuna Memanah (2013).
Melalui karyanya tersebut, Nasirun konsisten memadukan unsur spiritualitas, mitologi, pewayangan, dan tradisi budaya Jawa hadir dalam bentuk seni rupa kontemporer yang menggambarkan dinamika sosial-politik di Indonesia.
Nasirun menggelar pameran seni sejak masih kuliah hingga meraih penghargaan Sketsa dan Seni Lukis Terbaik ISI Yogyakarta. Karyanya juga mendapat pengakuan dari Phillip Morris Awards pada tahun 1997.
Pada tahun 2015, Nasirun pernah diundang oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dalam program bertajuk "Belajar Bersama Maestro" untuk membagikan pengalaman serta bimbingannya kepada anak-anak muda yang tertarik pada kesenian.
Selain melukis, Nasirun adalah seorang kolektor seni yang tekun. Ia merawat dan menyelamatkan banyak karya seni tradisi serta karya seniman lain di studionya di Bantul.
Baca Juga: Mengenal Sosok Achmad Supandi, Sang Begawan Lukis dari Rambipuji Jember
Nasrudian juga dikenal sangat dermawan dan selalu membuka pintu bagi seniman-seniman muda yang butuh arahan atau sekadar tempat bertukar pikiran.
Nasrudian sempat dijuluki 'seniman gorengan' yang diberikan karena kepribadiannya yang sangat rendah hati. Di tengah ketenaran karyanya di galeri-galeri internasional, Nasirun masih tetap menggelar karya seni di beberapa tempat.
Kepergian Nasirun meninggalkan duka yang mendalam bagi dunia seni rupa Indonesia. Kerabat dekat menceritakan almarhum sebelum berpulang yang sempat mengeluhkan kondisi kesehatannya setelah mengalami sesak napas, masalah asam lambung, dan pneumonia.
Artikel Terkait
Tutup Usia, Inilah 7 Karya Legendaris Titiek Puspa yang Tak Lekang oleh Waktu, Ada 'Kupu-Kupu Malam' hingga Lagu Anak-Anak Penuh Kenangan
Gusti Irwan Wibowo Siapa? Profil dan Biodata Gustiwiw, Musisi Berbakat yang Tutup Usia di Usia 26 Tahun. Ternyata Pernah Berkolaborasi dengan...
Hengki Kawilarang Tutup Usia, Kisah Desainer Indonesia dan Jejak Karyanya yang Mendunia
Iie Sumirat Meninggal Dunia, Legenda Bulutangkis Tutup Usia Usai Dirawat Seminggu di Rumah Sakit di Bandung
Kini Tutup Usia, Epy Kusnandar Ternyata Pernah Bahas soal Kematian dan Sampaikan Permintaan Terakhir, Sempat Rasakan Firasat Ini Sebelum Wafat
Perjalanan Hidup Temon Templar: dari Penyiar Radio hingga Jadi Komedian Terkenal bersama Abdel Achrian, Unggahan Terakhir Sebelum Wafat Bikin Nyesek