Minggu, 19 Juli 2026

Pegiat Isu Perempuan Soroti Gimmick Open to Work LinkedIn Prilly, Singgung Soal Privilege hingga Dampak Sosial di Masyarakat, Sampaikan Pesan Ini

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Kamis, 5 Februari 2026 | 19:58 WIB
Potret Prilly Latuconsina yang mendapat sorotan dari pegiat isu perempuan imbas gimmick open to work Linkedin, singgung sensitivitas sebagai publik figur (Instagram/prillylatuconsina96)
Potret Prilly Latuconsina yang mendapat sorotan dari pegiat isu perempuan imbas gimmick open to work Linkedin, singgung sensitivitas sebagai publik figur (Instagram/prillylatuconsina96)

SketsaNusantara.id - Nama Prilly Latuconsina masih terus menjadi perbincangan publik usai unggahannya di LinkedIn menuai polemik.

Aktris sekaligus pengusaha muda itu sebelumnya disorot lantaran menggunakan fitur #OpenToWork di LinkedIn, yang diketahui ternyata merupakan bagian dari campaign promosi brand pasta gigi Sensodyne.

Prilly telah menyampaikan permintaan maaf dan klarifikasi melalui akun Instagram pribadinya beberapa waktu lalu.

Dalam penjelasannya, Prilly menyebut penggunaan fitur tersebut bukan bermaksud meremehkan para pencari kerja. Ia mengaku ingin "belajar hal baru" dan tidak menyadari bahwa unggahannya ternyata telah melukai perasaan banyak orang.

Baca Juga: Prilly Latuconsina Dituding Cuma Gimmick Marketing Usai Pasang Status 'Open to Work' di Linkedin, Bikin Warganet Meradang hingga Dinilai Nirempati

Meski Prilly telah menyampaikan permintaan maaf dan klarifikasi, publik masih menilai langkah tersebut kurang sensitif di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Banyak orang yang sedang berjuang mencari pekerjaan, baik itu fresh graduate maupun yang terdampak badai PHK sepanjang tahun 2025 kemarin.

Sorotan tajam datang dari pegiat isu perempuan, Poppy Dihardjo. Melalui akun Instagram pribadinya, ia menulis sebuah unggahan panjang dan mengajak publik untuk melihat polemik ini dari kacamata yang lebih struktural, bukan sekadar soal niat pribadi Prilly.

Poppy yang dikenal vokal dalam berbagai isu perempuan, ikut menyoroti polemik ini dari sudut pandang komunikasi publik dan ketimpangan kelas sosial.

"'Prilly is open to work: Jangan kaget dulu ya, aku menyalakan badge #OpentoWork bukan karena kekurangan aktivitas, tapi karena ingin belajar hal baru'. Emang beda kelas kita, Pril," tulis Poppy dikutip SketsaNusantara.id dari unggahan akun Instagram @poppydihardjo pada hari Kamis, 5 Februari 2026.

Baca Juga: Prilly Latuconsina Minta Maaf Imbas Status 'Open to Work' Linkedin, Begini Klarifikasinya soal Pencarian Kerja yang Diduga Cuma Gimmick Marketing

Menurutnya, masalah utama bukan terletak pada intensi, melainkan pada kegagalan membaca konteks sosial dan emosi kolektif yang melekat pada simbol "open to work" di LinkedIn.

Poppy menegaskan bahwa LinkedIn saat ini bukan sekadar platform profesional, melainkan ruang "survival" bagi banyak orang yang tengah berada dalam kondisi rentan.

Ketika simbol tersebut digunakan oleh figur publik dengan privilese tinggi untuk kepentingan eksperimen atau kampanye, pesan yang sampai ke publik bisa berubah dan terasa menyakitkan hingga melukai banyak pihak bagi mereka yang benar-benar sedang berjuang mencari pekerjaan.

"Dear Prilly, seandainya kamu lakukan asesmen terlebih dulu, kamu nggak akan perlu minta maaf. Masalahnya bukan intensimu kok. Masalahnya adalah komunikasi publik yang gagal baca konteks," ujarnya.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Instagram @poppydihardjo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X