Kamis, 4 Juni 2026

Kasus Ressa Rossano Ramai Disorot, Aktivis Perempuan Minta Publik Berempati dan Tak Gegabah Menghakimi Denada sebagai 'Ibu Durhaka', Ini Alasannya

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Rabu, 4 Februari 2026 | 12:30 WIB
Potret Denada yang mendapat sorotan dari aktivis perempuan lantaran dianggap 'ibu durhaka' karena menelantarkan Ressa Rossano anak kandungnya (Instagram/denadaindonesia)
Potret Denada yang mendapat sorotan dari aktivis perempuan lantaran dianggap 'ibu durhaka' karena menelantarkan Ressa Rossano anak kandungnya (Instagram/denadaindonesia)

Menurut Poppy, dalam konteks semacam ini, relasi ibu-anak bisa menjadi sesuatu yang luar biasa berat karena trauma yang nyata dan belum selesai.

"Keputusan mempertahankan kehamilan bisa jadi bukanlah keputusannya sendiri, dan berelasi ibu-anak mungkin jadi luar biasa berat karena trauma itu real," ujarnya.

Baca Juga: Lega Akhirnya Diakui Sebagai Anak, Ressa Rossano Menangis Minta Publik Tak Boikot Denada, Ingin Lakukan Ini Jika Bertemu Ibu Kandung

"Apa jadi lebih sederhana kalau R adalah anak yang lahir dari relasi romantis konsensual namun si bapak 'minggat' saat kehamilan terjadi? Ya nggak juga, bisa jadi juga ada tekanan eksternal melanjutkan kehamilan dengan berbagai pertimbangan," imbuhnya.

Tak hanya itu, Poppy juga menyoroti kemungkinan lain, seperti tekanan keluarga, kesepakatan pengalihan pengasuhan, hingga kondisi sosial yang membuat relasi ibu dan anak menjadi semakin kompleks.

"Bagaimana kalau ternyata sudah ada kesepakatan 'no contact' jika kehamilan dilanjutkan sama keluarga yang setuju ngurus anaknya setelah lahir? Apa kita masih akan menghakimi dan menghujat?" tanya Poppy.

Poppy menekankan bahwa apa yang dialami Ressa belum tentu bisa langsung disebut sebagai penelantaran anak.

Baca Juga: Viral, TikToker Klaim Ada 5 Pria Mengaku Pernah Dekat dengan Denada, Ayah Ressa Disebut Berinisial TR

"Secara konseptual dan hukum, sulit juga menyebut apa yang dialami R sebagai 'penelantaran' dalam arti klasik," tulisnya.

Dalam tulisannya, Poppy menjelaskan bahwa, penelantaran biasanya merujuk pada kondisi di mana kebutuhan dasar anak tidak terpenuhi, tidak ada pengasuh, dan tidak ada perlindungan.

Sementara dalam kasus Denada, Ressa tetap dibesarkan oleh keluarga ibu biologisnya dan juga mendapatkan pemenuhan finansial dari Emilia Contessa.

Namun, ia menggarisbawahi bahwa tetap ada "yang hilang" dalam kasus Denada dan Ressa. Bukan soal pengasuhan fisik, melainkan relasi ibu biologis dan kejelasan asal-usul Ressa.

Menurut Poppy, yang terjadi lebih tepat disebut sebagai pengalihan pengasuhan, bukan penghilangan tanggung jawab.

Meski demikian, luka identitas bisa tetap muncul ketika seorang anak mengetahui bahwa ibu biologisnya ada, dekat, namun tidak hadir secara emosional dalam hidupnya.

"Secara psikologis kehadiran Ibu pengganti bisa cukup, tapi nggak selalu lengkap," ucapnya.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: Instagram @poppydihardjo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X