Senin, 20 Juli 2026

Apa Itu Cancel Culture? Julia Prastini Diboikot Imbas Skandal Perselingkuhannya Viral, Dinilai Jadi Hukuman Sosial Bagi Publik Figur Bermasalah

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Senin, 27 Oktober 2025 | 09:10 WIB
Potret Julia Prastini yang terkena cancel culture dan diboikot usai skandal peselingkuhannya viral di medsos (Instagram/juliaprt7)
Potret Julia Prastini yang terkena cancel culture dan diboikot usai skandal peselingkuhannya viral di medsos (Instagram/juliaprt7)

"Istilah cancel culture atau call-out-culture adalah bentuk pembatalan, pengisosalisasian terhadap seseorang (biasanya selebirti atau politisi) di media sosial," tulis Unair melalui situs resminya yang diunggah tahun 2022 lalu.

"Jadi istilah ini sebenarnya istilah baru sebagai bentuk boikot terhadap seseorang yang dianggap mengeluarkan pendapat atau bertindak yang bernuansa rasis atau di luar batas kesopanan," imbuhnya.

"Bila ada seorang selebriti misalnya mengeluarkan kata-kata tak sopan atau menghina agama atau kelompok tertentu, maka masyarakat secara bersama-sama melakukan boikat untuk tidak melihat akun dia di media sosial media, atau keluar sebagai follower yang bersangkutan," ujarnya.

Istilah cancel culture pertama kali populer di Amerika Serikat sekitar tahun 2015 berawal dari gerakan protes para korban pelecehan seksual.

Konsepnya berasal dari budaya internet yang memungkinkan masyarakat "membatalkan" dukungan terhadap figur publik, selebriti, atau brand yang dianggap berperilaku menyimpang.

Awalnya, cancel culture muncul sebagai bentuk protes moral terhadap perilaku rasis, seksis, atau penyalahgunaan kekuasaan di dunia hiburan.

Namun, seiring waktu, budaya ini meluas hingga mencakup pada masalah pribadi publik figur, termasuk skandal perselingkuhan, kebohongan publik, atau pelanggaran etika sosial.

Fenomena ini bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Sebelumnya, Nissa Sabyan juga pernah mengalami cancel culture dan ramai diboikot usai dikabarkan menjalin hubungan dengan Ayus, rekan satu grupnya.

Publik ramai mengecam dan memboikot Sabyan Gambus, hingga grup tersebut kini jarang tampil di televisi maupun acara publik. Fenomena ini menunjukkan bagaimana dampak opini publik di media sosial dapat mengubah nasib dan karier seseorang.

Hal serupa kini dialami Julia Prastini. Setelah video peselingkuhannya tersebar, ia dibanjiri kritik, boikot, dan komentar pedas.

Dukungan mengalir untuk Daehoon bahkan banyak warganet yang memberikan peringatan agar ia tidak menerima Jule kembali karena perbuatan sang istri yang menyakitkan hati dan tak bisa dimaafkan.

Budaya cancel culture memang memberi ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan pendapat dan menuntut tanggung jawab publik figur.

Namun di sisi lain, fenomena ini juga bisa menjadi pedang bermata dua, karena dapat mengarah pada perundungan massal (cyberbullying) dan bisa berdampak pada kesehatan mental seseorang.

"Cancel culture juga merupakan tuntutan akuntabilitas seseorang karena tindakannya yang negatif dan menyinggung harga diri masyarakat," tulis Unair dalam situs resminya.

"Hal ini tak hanya terjadi pada artis tetapi juga pada politisi yang bisa-bisa tidak terpilih lagi di pemilu karena masyarakat memboikotnya," tuturnya.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: The New York Times, unair.ac.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X