“Perlu diingat, film ini tidak menggunakan anggaran dana dari pemerintah sedikitpun dan ini bukan filmnya PFN,” ujar Ifan pada Rabu, 13 Agustus 2025.
Meski memberi klarifikasi, Ifan juga menyampaikan dukungannya terhadap film tersebut.
“Memang, menurut kami di PFN, film ini jauh secara maksimal dari segi produksinya tapi bukankah kualitas produksi merupakan bagian dari pembelajaran?” tambahnya.
Dengan proyek Pelangi di Mars, PFN menunjukkan langkah strategis untuk mengembangkan film animasi nasional. Penggunaan teknologi XR diharapkan memberi pengalaman baru bagi penonton, sekaligus menjadi pembeda di tengah maraknya produksi animasi.
PFN juga menargetkan film ini bisa menjadi karya yang memadukan kualitas cerita dan inovasi teknologi.
Kehadiran karakter yang beragam, baik robot maupun manusia, diharapkan memperkaya alur dan memberikan kedalaman pada narasi.
Industri animasi di Indonesia sendiri sedang berada di tahap penting. Kehadiran film-film baru dari berbagai rumah produksi menjadi indikator meningkatnya minat pasar dan kompetisi yang sehat.
PFN berharap Pelangi di Mars dapat menjadi salah satu karya yang membanggakan di kancah nasional maupun internasional.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Arbani Yasiz Kelahiran Mana? Intip Biodata Bintang Film Rompis yang Sah Menikah dengan Raissa Ramadhani
Film Animasi One For All Tuai Gelombang Kritik, Netizen Sindir Kualitas Hingga Bikin Admin CGV Gelisah
Desainer Temukan Karakter 3D Mirip di Film Merah Putih One For All, Netizen: 6 Miliar Beli Aset Tinggal Tempel
4 Rekomendasi Film Bertema Pahlawan dan Kemerdekaan, Cocok Ditonton saat 17 Agustus, Nomor 3 Diangkat dari Novel Terkenal!
Syifa Hadju Ungkap Rasakan Hal Ini saat Nonton El Rumi Tanding Tinju, Aktris Film Kisah untuk Geri: Beda Rasanya...