Kamis, 4 Juni 2026

Merince Kogoya Dipulangkan dari Karantina Miss Indonesia 2025, Geger Isu Bendera Israel dan Ketegangan di Media Sosial

Photo Author
Ni’matul Fauziah, Sketsa Nusantara
- Minggu, 29 Juni 2025 | 06:30 WIB
Merince Kogoya dipulangkan akibat jejak digital dengan bendera Israel. (Instagram/kogoya_merry)
Merince Kogoya dipulangkan akibat jejak digital dengan bendera Israel. (Instagram/kogoya_merry)

Penyelenggara juga menyampaikan bahwa seorang finalis wajib menjaga netralitas dan bijak dalam setiap pernyataan publik, termasuk di media sosial.

Mereka menegaskan bahwa keputusan mengganti finalis bukan berdasarkan sentimen semata, tetapi sudah melalui pertimbangan mendalam, sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung oleh ajang tersebut.

Bahkan salah satu fanspage pendukung Miss Indonesia menyatakan bahwa langkah ini harus menjadi pelajaran bersama untuk lebih bijak dalam menempatkan diri atas isu-isu yang bersifat sensitif.

Sementara itu, Merince Kogoya menyampaikan kekecewaannya melalui story akun instagram pribadinya @kogoya_merry. Ia mengaku telah mengorbankan banyak hal demi mewujudkan mimpinya menjadi finalis Miss Indonesia, mulai dari perjuangan fisik, pengorbanan finansial hingga menghadapi risiko keamanan saat pembuatan video profil.

“Nyawa jadi taruhan di situasi penembakan kami pergi untuk pembuatan video profil. Sakit, jatuh bangun, tangisan dalam perjalanan ini,” tulis akun instagram pribadinya @kogoya_merry.

Ia menegaskan bahwa unggahannya dua tahun lalu yang kini disorot publik bukanlah ajakan politik, melainkan bagian dari ekspresi iman pribadinya sebagai seorang Kristiani yang mendoakan perdamaian bagi Israel. Merince pun menyayangkan bahwa keyakinannya telah disalahpahami dan diseret ke dalam konteks politik yang berbeda.

“Saya hanya menjalankan kepercayaan saya sebagai pengikut Kristus untuk berdoa, memberkati, dan mendoakan pertobatan serta perdamaian Israel,” lanjutnya.

Di akhir pernyataannya, Merince menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Papua Pegunungan dan seluruh tim pendukungnya. Ia merasa telah memberikan yang terbaik, meskipun akhirnya harus menerima keputusan yang berat dari pihak penyelenggara.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa eksistensi di ruang publik menuntut konsistensi antara nilai pribadi dan persepsi kolektif.

Setiap individu yang tampil sebagai representasi suatu daerah atau bangsa membawa tanggung jawab yang tak ringan. Dalam dunia yang serba terhubung, jejak digital bukan sekadar arsip masa lalu tetapi bisa menjadi penentu arah masa depan.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X