SketsaNusantara.id - Pada 13 Februari 2014, Gunung Kelud yang terletak di perbatasan Kabupaten Kediri, Blitar, dan Malang meletus dahsyat.
Letusan ini merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah aktivitas vulkanik gunung tersebut. Setidaknya, sejak tahun 1000 M lalu, Gunung Kelud telah meletus lebih dari 30 kali.
Letusan tahun 2014 ini berlangsung kurang dari dua hari dan menelan empat korban jiwa.
Sejak akhir 2013, aktivitas vulkanik mulai meningkat hingga akhirnya pada 13 Februari pukul 21.15 WIB statusnya ditetapkan sebagai Awas (Level IV).
Kurang dari dua jam kemudian, pukul 22.50 WIB, letusan eksplosif pertama terjadi. Hujan kerikil mengguyur daerah sekitar dan suara ledakan terdengar hingga ratusan kilometer.
Hujan abu vulkanik menyelimuti berbagai wilayah di Jawa Timur, Yogyakarta, hingga Jawa Barat, dengan ketebalan abu mencapai lebih dari 2 cm di beberapa daerah.
Baca Juga: Polres Jombang Ungkap Kasus Pembunuhan Sadis Siswi SMA, Tiga Pelaku Berhasil Ditangkap
Di Madiun dan Magetan, jarak pandang terbatas hanya 3-5 meter sehingga mengganggu transportasi darat.
Dampak letusan juga melumpuhkan transportasi udara. Beberapa bandara utama di Pulau Jawa terpaksa ditutup sementara akibat landasan pacu yang tertutup abu vulkanik.
Total 33 rute penerbangan domestik dan internasional dibatalkan. Banyak maskapai menghindari jalur udara di sekitar Gunung Kelud untuk menjaga keselamatan penerbangan seperti dikutip SketsaNusantara.id dari situs Kementerian Perhubungan.
Setelah satu malam letusan, aktivitas gunung berangsur tenang. Pada 20 Februari 2014, status Gunung Kelud diturunkan menjadi Siaga (Level III), kemudian pada 28 Februari 2014 statusnya menjadi Waspada (Level II).
Letusan ini menghancurkan kubah lava, menyebabkan kawah Kelud menjadi kering, dengan kemungkinan terbentuknya kembali danau kawah.