Alasannya tidaklah mungkin Soekarno sebagai panglima TNI saat itu tidak tahu apa-apa dan tidak berbuat apa-apa saat terjadi peristiwa dewan jenderal berupa penculikan 6 jenderal dan 1 perwira.
"Panglimanya diculik, dibunuh masak dia diem aja bahkan ia di Halim bersama Pak Parjo dari Dewan Revolusi," tambah Amelia.
Menurutnya aneh jika Soekarno dengan segala pangkat dan jabatannya saat itu tak mengetahui dan tak mampu menghentikan aksi dewan jenderal yang terjadi pada jenderal-jenderalnya.
Meski demikian, meski berdasarkan fakta-fakta yang ada terkuat keterlibatan Soekarno tersebut, keluarga Ahmad Yani menyatakan tak bisa berbuat apa-apa ketika TAP MPRS dicabut sebagai pemulihan nama baik Soekarno.
"Silahkan mau dicabut, dihapus silahkan saja karena mereka lebih pandai dari kita, mungkin lebih tahu atau justru tidak tahu sama sekali secara detail apa sih yang terjadi waktu itu," ujar Untung.
Menurut Untung Mufreni Yani, ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan TAP MPRS tersebut dicabut, yakni orang-orang yang mengambil keputsuan itu merasa lebih tahu, atau bahkan tak tahu sama sekali.
Apa yang disampaikan oleh kedua anak dari Jenderal Ahmad Yani tersebut rupanya berdasarkan kesaksian langsung serta penelusuran catatan-catatan yang ditinggalkan ayah mereka, Jenderal Ahmad Yani.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!