SketsaNusantara.id – Ratusan warga Desa Jatirejo Kecamatan Rejoso, Nganjuk, Jatim mengikuti nyadran, Jumat 3 Juli 2026, pagi. Tidak hanya warga lokal, tapi juga warga perantauan sengaja pulang mengikuti tradisi yang digelar rutin setiap tahun ini.
Acara dilaksankan di area pemakaman desa setempat. Nyadran sebagai ritual mendoakan arwah leluhur ini dipimpin tokoh agama setempat.
Kegiatan yang juga disebut bersih desa ini dihadiri Camat Rejoso dan kepala desa Jatirejo Supandi. Kapolsek Rejoso dan Danramil Rejoso beserta jajarannya serta para tokoh masyarakat dan tokoh agama juga hadir.
Menurut Kiai Imam Hartoyo, Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Rejoso, tradisi nyadran juga wujud kebersamaan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah. "Sekaligus upaya melestarikan budaya luhur warisan leluhur (nguri-uri kabudayan)," ujarnya.
Baca Juga: Siswa TEI SMKN 3 Bondowoso Pasang SiRomantis Produksinya di Berbagai Sekolah
Nyadran, lanjutnya, merupakan tradisi masyarakat Jawa yang memiliki makna mendalam. "Selain tradisi ini juga menjadi sarana untuk mendoakan para leluhur yang telah wafat," imbuhnya.
Di dalam tradisi nyadran menurutnya juga terkandung nilai religius, sosial, budaya, dan pendidikan karakter. "Terutama tentang kepedulian, penghormatan kepada pendahulu, persatuan serta semangat kebersamaan," jelasnya.
Dia mengajak masyarakat untuk menjadikan momentum nyadran sebagai sarana meningkatkan keimanan, mempererat persaudaraan serta menumbuhkan kesadaran pentingnya mempersiapkan bekal kehidupan akhirat.
"Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang kekal. Kematian bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan perpindahan dari alam dunia menuju alam akhirat," ucapnya.
Baca Juga: Unik dan Kreatif! 10 Motto Hidup Cocok untuk MPLS 2026, Siswa Baru Wajib Cek
Baik buruknya sebuah desa, lanjut dia, bergantung kepada masyarakatnya.
"Jika masyarakatnya berakhlak mulia, hidup rukun, saling menghormati, saling membantu, menjaga persatuan dan mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, maka desa itu akan menjadi desa yang maju, damai dan penuh keberkahan," Kiai Imam Hartoyo.
Dia menandaskan, orang yang baik adalah mereka yang mampu memberi manfaat bagi sesama. "Menjaga hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia, menghormati orang tua, guru, serta tidak melupakan jasa para pendahulu," tambahnya.
Dia menegaskan, nyadran yang diisi dengan mendoakan leluhur merupakan bentuk bakti yang mulia. Menurutnya, hal itu menjadi salah satu cara menjaga kesinambungan nilai-nilai kebaikan antargenerasi.