"Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku dan kenakalan saya sendiri di masa lalu," ujar Om Zein.
"Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki. Mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan, terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa menjaga diri," tuturnya.
Om Zein juga menegaskan bahwa dirinya menghormati perempuan dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Sunda yang mengajarkan kesantunan, penghormatan, serta saling menghargai.
Ia menyadari bahwa karya yang dibuat oleh seorang pejabat publik akan mendapatkan perhatian lebih besar dibandingkan karya masyarakat pada umumnya. Karena itu, ia menerima berbagai kritik dan masukan yang disampaikan publik sebagai bentuk evaluasi.
"Saya menghargai seluruh kritik yang disampaikan masyarakat. Ini menjadi pengingat bagi saya agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan melalui karya seni," pungkasnya.
Permintaan maaf dan penjelasan yang disampaikan Om Zein itu meluruskan pemahaman publik. Kejadian ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga sensitivitas terhadap isu perempuan dan menjaga nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini