Selain itu, mahasiswa juga menuntut pemerintah menstabilkan nilai tukar Rupiah, mengendalikan harga kebutuhan pokok, dan menjaga daya beli masyarakat serta menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dinilai memberatkan rakyat.
3. Semarang: Aksi Bakar Uang Mainan Soroti Melemahnya Nilai Rupiah
Sementara itu di Semarang, ratusan mahasiswa menggelar demonstrasi di depan kompleks Kantor Gubernur dan DPRD Jawa Tengah dengan diwarnai aksi bakar uang mainan sebagai simbol dari protes terhadap pelemahan nilai tukar rupiah yang berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat.
BEM Universitas Diponegoro (Undip) dan ratusan mahasiswa lainnya turun ke jalan menuntut pemerintah menghentikan berbagai pemborosan APBN. Mereka mendesak agar program MBG dan proyek Koperasi Desa Merah Putih dievaluasi atau dihentikan karena dinilai membebani kas negara.
Selain itu, demonstran di Semarang dan Solo juga kompak melemparkan kritik tajam terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) Polri yang baru disahkan karena dinilai berpotensi mempersempit ruang demokrasi publik.
4. Yogyakarta: 'Aksi Santet' Teatrikal Mahasiswa UGM
Jika di Jakarta dan Jawa Tengah aksi berjalan dengan ketegangan barikade dan orasi politik yang menggelegar, kreativitas justru ditunjukkan oleh mahasiswa di Yogyakarta.
Turun ke jalan dengan membawa esensi budaya lokal yang dikemas secara satir, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyampaikan kritik dengan menggelar "aksi santet" teatrikal terhadap Prabowo-Gibran.
Dalam video yang diunggah akun Instagram @lpmkeadilan, terlihat para mahasiswa menggunakan properti selayaknya ritual perdukunan yang dikemas dalam aksi teatrikal sebagai pertunjukan simbolik yang digelar bertepatan dengan malam Jumat Kliwon.
Bukan tanpa alasan, aksi ini merupakan bentuk ekspresi seni sekaligus penyampaian aspirasi atas keresahan dan kekecewaan masyarakat terhadap berbagai kondisi sosial dan politik yang berkembang.
Melalui pendekatan budaya dan teatrikal, para mahasiswa FIB UGM berupaya menyampaikan kritik sebagai refleksi terhadap dinamika pemerintahan saat ini.
Aksi teatrikal ini sontak mencuri perhatian luas di media sosial dan dianggap sebagai bagian dari kebebasan berekspresi di lingkungan akademik di tengah kondisi carut-marutnya kondisi sosial-politik nasional.
Itulah sederet aksi unjuk rasa yang serentak digelar di Jakarta, Solo, Semarang, hingga Yogyakarta.