Fenomena ini terjadi ketika cahaya matahari terhalang oleh awan tebal atau awan berukuran besar yang menjulang tinggi.
Hambatan tersebut membuat cahaya matahari terpecah menjadi berkas-berkas terang dan gelap yang tampak membelah langit.
Saat matahari berada rendah di ufuk barat ketika senja, cahaya matahari harus menembus lapisan atmosfer yang lebih panjang dibanding siang hari.
Baca Juga: Viral Jam di Ponsel Warga Ternate Mundur Satu Jam, Berikut Penjelasan Resminya dari BMKG
Jika terdapat awan tebal, puncak pegunungan, atau kumpulan uap air di cakrawala, sebagian cahaya akan tertutup dan membentuk bayangan lurus memanjang.
Efek perspektif tersebut kemudian membuat garis-garis cahaya itu terlihat menyebar dari titik matahari terbenam, mirip seperti rel kereta api yang tampak bertemu di kejauhan.
Selain itu, warna jingga kemerahan yang terlihat dramatis saat fenomena terjadi juga dipengaruhi oleh proses hamburan cahaya di atmosfer atau yang dikenal sebagai Rayleigh scattering.
Dalam proses ini, warna biru lebih banyak tersebar sehingga warna merah, oranye, dan kuning menjadi lebih dominan saat senja.
BMKG juga menegaskan bahwa fenomena crepuscular ray sama sekali bukan pertanda akan terjadi bencana alam, gempa bumi, maupun cuaca ekstrem.
Fenomena tersebut murni merupakan peristiwa optik atmosfer yang dapat dijelaskan secara ilmiah melalui ilmu fisika dan meteorologi.
Menariknya, fenomena serupa terkadang juga dapat terlihat di arah berlawanan dari matahari terbenam atau muncul di ufuk timur. Fenomena itu dikenal sebagai anticrepuscular ray.
Meski bukan kejadian berbahaya, fenomena langit terbelah memang kerap memukau masyarakat karena menghadirkan pemandangan langit yang dramatis dan tidak biasa.
Tak heran jika video penampakannya di Jember langsung viral dan menjadi perbincangan luas di media sosial.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!