Empat segmen tersebut mencakup B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International. Operasional bisnis akan dijalankan langsung oleh masing-masing entitas dengan fokus usaha berbeda.
Di sisi lain, Telkom turut melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi. Langkah itu dilakukan sebagai tindak lanjut agenda total governance reset yang diamanatkan Danantara Indonesia.
Perubahan kebijakan tersebut berdampak pada kontraksi laba bersih sebesar 9,5 persen secara tahunan. Hal itu dipengaruhi peningkatan beban percepatan depresiasi dan penyesuaian klasifikasi aset.
Segmen B2C masih menjadi penyumbang utama pendapatan perseroan melalui Telkomsel. Pada tahun buku 2025, Telkomsel mencatat pendapatan konsolidasian sebesar Rp109,2 triliun.
Kebutuhan layanan digital yang terus meningkat turut mendorong pertumbuhan trafik data sebesar 15 persen secara tahunan. Average Revenue Per User atau ARPU juga mulai menunjukkan pemulihan sejak paruh kedua 2025.
Selain segmen konsumen, Telkom juga memperkuat bisnis infrastruktur digital nasional. Perseroan memiliki backbone serat optik lebih dari 210 ribu kilometer serta jaringan data center dan konektivitas satelit.
Pada segmen B2B Infrastructure, Telkom mencatat pendapatan Rp8,9 triliun atau tumbuh 9,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang bisnis data center dan ekspansi fiber.
“Sepanjang tahun 2025 Telkom telah berhasil menjaga kinerja yang stabil berkat strategi transformasi TLKM 30. Di tahun 2026, Telkom berada pada fase penting dalam mengakselerasi dan melanjutkan eksekusi transformasi,” tutup Dian.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!