SketsaNusantara.id - Upaya pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam menyiapkan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai pengganti LPG yang mencuri perhatian masyarakat.
Bukanlah tanpa alasan, usulan penggantian gas elpiji menuju ke CNG sebagai langkah untuk mengurangi ketergantungan impor energi, dengan melihat perkembangan dunia global. Terlebih lagi sudah banyak negara yang telah dulu memanfaatkan CNG sebagai bahan bakar alternatif.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menyoroti tingginya impor LPG yang menjadi salah satu beban besar dalam anggaran energi nasional.
Oleh karena itu, pemerintah mulai melirik gas alam domestik sebagai solusi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menyediakan energi yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
CNG Sudah Digunakan di Banyak Negara
CNG atau yang biasa dikenal sebagai Bahan Bahak Gas (BBG) bukanlah teknologi baru. Bahan bakar ini telah digunakan secara luas yang mendukung sektor transportasi.
Dilaporkan SketsaNusantara.id dari situs resmi Kementerian ESDM, diketahui bahwa lebih dari 30 juta kendaraan di dunia telah menggunakan CNG yang tersebar di berbagai negara, mulai dari Asia, Eropa, hingga Amerika Latin.
Argentina menjadi salah satu negara dengan jumlah kendaraan CNG terbesar di dunia, kemudian juga Pakistan yang memiliki jaringan infrastruktur CNG yang sangat luas serta India yang mulai menggunakan bahan bakar ini secara masif, terutama untuk transportasi umum.
Selain itu, Brasil juga dikabarkan tengah aktif mengembangkan konversi kendaraan menjadi bahan bakar gas.
Iran juga termasuk pengguna CNG terbesar di dunia yang menyebabkan harga BBM menjadi sangat terjangkau. Penggunaan CNG membantu pemerintah Iran menekan konsumsi bensin domestik.
Dengan beralih ke CNG, yang harga subsidinya bahkan lebih murah (sekitar Rp250 hingga Rp400 per liter), Iran dapat menghemat stok bensin untuk cadangan nasional atau keperluan lainnya.
Tiongkok sudah mulai mengintegrasikan CNG ke dalam sistem transportasi modern. Begitu juga dengan Italia yang menjadi salah satu negara Eropa dalam membangun stasiun pengisian CNG diikuti negara lain seperti Austria, Swedia, Belgia, Belanda, Republik Ceko, Finlandia, hingga Prancis.