news

Profil Usmar Ismail, Sosok di Balik Hari Film Nasional, Pernah Ditangkap Belanda hingga Diberi Gelar Pahlawan Nasional

Minggu, 29 Maret 2026 | 06:00 WIB
Sosok Usmar Ismail dan perannya dalam Hari Film Indonesia (bpi.or.id)

Usmar Ismail memiliki seorang kakak bernama Dr. Abu Hanifah yang juga terjun ke dunia sastra dengan nama pena El Hakim.

Baca Juga: 10 Link Download Logo dan Twibbon Memperingati Hari Film Nasional 2026, Yuk Share di Medsos

Pendidikan Usmar Ismail

Sebagai anak bangsawan, Usmar Ismail mendapatkan pendidikan dari level sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Setelah menyelesaikan sekolah dasarnya di Hollandsch-Inlandsche School atau HIS (sekolah dasar) di Batusangkar, Usmar melanjutkan pendidikannya ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau MULO di Simpang Haru, Padang.

Lulus MULO, Usmar merantau ke Yogyakarta untuk meneruskan studinya di AMS atau Algemeene Middelbare School.

Sementara untuk pendidikan tingkat perguruan tinggi, Usmar mengambil jurusan sinematografi di Universitas California, Los Angeles (UCLA) di Amerika Serikat dan meraih gelar Bachelor of Arts di tahun 1952.

Baca Juga: 8 Link Twibbon Hari Film Nasional 2026, Unggah di Media Sosial pada 30 Maret Mendatang

Karier Usmar Ismail

Sebelum menjadi sutradara, Usmar Ismail pernah menggeluti beberapa profesi, salah satunya adalah wartawan di kantor berita Antara.

Pada saat menjadi wartawan itulah, Usmar Ismail pernah ditangkap hingga dijebloskan ke penjara oleh Belanda.

Ia dituduh terlibat dalam rencana menggulingkan pemerintahan Belanda saat itu.

Di dunia perfilman, debut perdana Usmar sebagai sutradara yakni Darah dan Doa yang dirilis pada tahun 1950.

Film tersebut dianggap sebagai tonggak film nasional pertama karena diproduksi sepenuhnya oleh orang Indonesia.

Darah dan Doa juga menjadi film pertama yang diproduksi oleh perusahaan Indonesia, Perfini yang didirikan oleh Usmar Ismail.

Halaman:

Tags

Terkini