Hingga kini, belum ada pihak yang dipastikan bertanggung jawab atas bencana. Penetapan tanggung jawab harus melalui penyelidikan aparat penegak hukum.
Pigai menyoroti maraknya penggiringan opini di ruang publik. Praktik tersebut sering menggunakan logika sesat. Di antaranya serangan pribadi, manipulasi emosi, generalisasi berlebihan, serta pengaburan sebab dan akibat.
Masyarakat diminta tetap rasional dan objektif. Pigai mengajak publik tidak mudah terpengaruh informasi di media sosial. Sikap kritis tetap diperlukan tanpa mengabaikan fakta.
Terkait penanganan bencana, Pigai menyatakan pemerintah menunjukkan keseriusan. Penanganan dilakukan secara sistematis dan terencana. Pemerintah menjalankan tahap tanggap darurat dan pembangunan infrastruktur pemulihan.
“Semua orang tentu tahu dan telah menyaksikan bahwa hampir setiap minggu Presiden datang ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” ujarnya.
Pigai menolak framing yang menyudutkan pemerintah sebagai pelaku teror. Menurutnya, jika teror terjadi, pelakunya bukan negara atau aktor pemerintah. Pemerintah tetap menghormati sikap kritis masyarakat.
Sejumlah pemengaruh dilaporkan menerima teror. Mereka di antaranya Ramon Dony Adam alias DJ Donny, Sherly Annavita, dan Chiki Fawzi. Ancaman terjadi setelah kritik penanganan bencana disampaikan ke publik.
DJ Donny melaporkan teror ke Polda Metro Jaya. Teror terjadi dua kali di kediamannya. Bentuknya pengiriman bangkai ayam dan pelemparan molotov.
“Jadi, kemarin saya dapat teror, dikirim bangkai ayam ke rumah saya. Lalu, semalam jam 3.00 WIB, di CCTV (kamera pengawas) terekam orang melempar molotov ke rumah saya,” kata Donny.
Sherly Annavita mengalami perusakan kendaraan. Sementara Chiki Fawzi mendapat ancaman digital. Greenpeace Indonesia juga melaporkan teror terhadap aktivisnya, Iqbal Damanik, berupa ancaman fisik dan pesan intimidatif.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!