Budi mengungkapkan bahwa sebelum kongres hari kedua dimulai, ia sempat menghubungi Jokowi untuk membicarakan rencana perubahan logo Projo.
“Tadi pagi saya masih komunikasi dengan Pak Jokowi, bahwa perubahan logo ini adalah bagian dari transformasi organisasi Projo untuk menjawab tantangan dan perkembangan zaman,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa keputusan mengganti logo bukanlah bentuk pemutusan hubungan, melainkan langkah adaptif agar organisasi lebih relevan di masa depan. Projo, menurutnya, juga akan membuka sayembara logo baru dengan melibatkan partisipasi publik.
Dalam arah politiknya, Budi Arie menegaskan bahwa Projo kini berkomitmen mengawal pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka sebagai bentuk keberlanjutan pemerintahan sebelumnya.
“Sebagai pemerintahan berkelanjutan, pemerintahan Pak Prabowo-Gibran harus kita kawal karena pada Pilpres 2024 berkelanjutan yang menang,” jelasnya.
Ia menambahkan, keputusan tersebut juga merupakan hasil rekomendasi dalam Sidang Pleno III Projo. “Sesuai dengan rekomendasi di Sidang Pleno III, sudah dijelaskan bahwa kita mendukung dan memperkuat pemerintahan Pak Prabowo,” tegasnya.
Dikenal sebagai organisasi yang identik dengan Jokowi, Budi meluruskan persepsi bahwa nama Projo bukan singkatan dari “Pro-Jokowi”.
“Projo itu bahasa Sanskerta-nya ‘negeri’, bahasa Jawa Kawi-nya artinya ‘rakyat’,” tutur mantan Menteri Koperasi itu pada hari pertama Kongres III di Jakarta Pusat.
Menurutnya, penyebutan Projo sebagai singkatan dari “Pro-Jokowi” hanya kebetulan karena mudah diucapkan. “Cuma teman-teman media kan ya, Projo, Pro-Jokowi, itu karena gampang dilafalkan saja,” tambahnya.
Budi menjelaskan bahwa perubahan logo akan diputuskan secara resmi di Kongres ke-3. Tujuannya agar organisasi tak terkesan mengkultuskan individu tertentu.
“Kemungkinan merubah logo Projo, yang nanti akan kami putuskan di kongres ke-3 ini. Logo Projo akan kami ubah, supaya tidak terkesan kultus individu,” ujarnya.
Meski begitu, ia memastikan nama “Projo” akan tetap dipertahankan karena memiliki makna kuat dalam bahasa Sansekerta dan Jawa Kawi. Transformasi ini, kata Budi, menjadi simbol bahwa organisasi tetap menjunjung nilai-nilai kerakyatan tanpa kehilangan akar sejarahnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!