Ia menambahkan, kegiatan urban farming yang diinisiasi BRI Peduli tidak hanya membantu masyarakat secara ekonomi, tetapi juga berdampak positif bagi lingkungan. Dengan mengelola lahan sempit, masyarakat dapat mengurangi polusi, menambah ruang hijau, serta mengelola sampah rumah tangga menjadi lebih produktif.
Dhanny menjelaskan, urban farming diharapkan menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan ketahanan pangan yang inklusif dan berkelanjutan.
Program BRInita juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) serta Asta Cita Pemerintah yang mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, dan ekonomi hijau.
“Di Hari Pangan Sedunia 2025 ini, mari kita dukung dan kembangkan urban farming sebagai bagian dari solusi modern menghadapi krisis pangan dan perubahan iklim,” imbuhnya.
Sementara itu, Neni, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Buruan Sae Pajajaran Hegar, mengungkapkan rasa syukur atas adanya kebun urban farming yang menjadi wadah bagi warganya.
“Tadinya kami tidak punya lokasi untuk menanam, sekarang sudah ada wadahnya. Kami sangat gembira tentunya, bisa menikmati hasil panen bersama,” ungkapnya.
Sejak diluncurkan pada 2022, program BRInita telah menjangkau 31 titik dan memberi manfaat bagi 1.160 jiwa. Program ini berkontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat, termasuk 20,16% Indeks Pembangunan Manusia (IPM) perempuan. Dari sisi lingkungan, BRInita telah menghasilkan ribuan kilogram sayuran segar, tanaman obat keluarga, pupuk organik cair, serta mengurangi emisi gas rumah kaca melalui sistem tanam hidroponik.
BRI Peduli berharap gerakan urban farming dapat terus berkembang di berbagai kota Indonesia. Selain menjadi solusi atas keterbatasan lahan, inisiatif ini juga memperkuat peran masyarakat dalam mewujudkan kota yang hijau, produktif, dan mandiri pangan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!