SketsaNusantara.id - Trans7, salah satu perusahaan TV Swasta tengah disorot hingga terancam diboikot.
Hal tersebut bermula dari tayangan dalam salah satu programnya yang membahas mengenai kehidupan santri dan pesantren.
Dituding menyudutkan sosok santri, kiai hingga pesantren dalam tayangannya, Trans7 banjir hujatan.
Selain muncul tagar boikot di media sosial pada 14 Oktober 2025, Trans7 juga terancam dilaporkan ke pihak kepolisian.
Trans7 sendiri merupakan stasiun televisi swasta nasional yang berada di bawah naungan Trans Corpm unit usaha CT Corp di bidang media yang dimotori Chairil Tanjung.
Trans7 hanyalah satu dari sekian unit usaha di bawah CT Corp milik pengusaha yang dijuluki Anak Singkong tersebut.
Kelompok usaha ini didirikan oleh Chairul Tanjung pada tahun 1987 dengan nama Para Group.
Baca Juga: PW GP Ansor Jawa Timur Kecam Trans7 atas Narasi Pelecehan terhadap Kiai dan Pesantren
Sosok Chairul Tanjung sendiri tak asing bagi publik, selain dikenal sebagai pengusaha ternama ia juga pernah masuk di pemerintahan saat masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY.
Perjalanan hidupnya juga sering dijadikan kisah inspiratif hingga diterbitkan dalam buku berjudul Chaerul Tanjung Si Anak Singkong.
Profil Chairul Tanjung
Dikutip SketsaNusantara.id dari laman resmi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Chairul Tanjung lahir di Jakarta, 18 Juni 1962.
Chairul Tanjung lahir dari pasangan Abdul Ghafar Tanjung, seorang wartawan yang menerbitkan surat kabar beroplah kecil dengan Halimah.