SketsaNusantara.id - Sikap tegas datang dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terkait kehadiran atlet Israel di Indonesia.
Ketua PBNU Ahmad Fahrur Rozi menyatakan penolakan terhadap izin atlet Israel untuk berlaga di ajang olahraga di Tanah Air.
Ia menilai izin tersebut bukan hanya berpotensi menimbulkan polemik publik, tetapi juga mencederai amanat konstitusi Republik Indonesia yang menolak segala bentuk penjajahan di muka bumi.
“Izin bagi atlet Israel bertanding di Tanah Air berpotensi menimbulkan kegaduhan publik dan mencederai amanat konstitusi kita,” kata Gus Fahrur di Jakarta, Kamis.
Menurutnya, Indonesia sejak awal berdiri telah menegaskan sikap politik luar negeri yang berpihak pada kemerdekaan dan keadilan bagi semua bangsa.
Karena itu, tidak ada alasan bagi Indonesia membuka ruang bagi atlet dari negara penjajah. “Kita tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel. Jadi tidak ada alasan, tidak ada manfaat apa pun bagi kita untuk menerima mereka datang dan bertanding di Indonesia,” ujarnya.
Gus Fahrur juga mengingatkan bahwa bangsa Indonesia memiliki catatan sejarah panjang dalam menolak berhadapan dengan Israel.
Pada tahun 1958, Indonesia bahkan memilih mundur dari babak kualifikasi Piala Dunia agar tidak harus bertanding melawan Israel. Baginya, keputusan itu mencerminkan konsistensi moral dan sikap politik luar negeri yang bebas aktif.
Penolakan terhadap atlet Israel, lanjutnya, merupakan bentuk nyata solidaritas bangsa Indonesia terhadap rakyat Palestina. Dukungan itu tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga menegaskan posisi Indonesia di mata dunia.
“Dari dulu sampai sekarang, sikap kita jelas, menolak penjajahan, menolak penindasan, dan menolak segala bentuk normalisasi dengan penjajah,” tegas Ahmad Fahrur Rozi.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Sugiono menjelaskan bahwa penyelenggaraan Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 di Jakarta menjadi tanggung jawab Persatuan Senam Indonesia (Persani).