SketsaNusantara.id – Pernah menjadi penyelamat para pelajar saat tugas menumpuk, platform pendidikan Brainly kini mengalami penurunan eksistensi yang signifikan.
Di tengah era kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih dan mudah diakses, eksistensi Brainly perlahan memudar.
Banyak yang bertanya, mengapa platform edukatif sebesar Brainly bisa tersingkirkan? Jawabannya bukan hanya soal inovasi, tapi juga relevansi.
Awal Mula Kejayaan Brainly sebagai Platform Edukasi
Dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Duzzle, Brainly merupakan platform pendidikan yang didirikan oleh Lukasz Haluch, Michal Borkowski, dan Tomasz Kraus pada tahun 2009 di Krakow, Polandia, dengan nama awal Znanija.pl. Platform ini dirancang sebagai forum tanya-jawab pelajaran bagi para siswa dan guru.
Seiring dengan meningkatnya popularitas, Brainly menembus pasar global dan memindahkan kantor pusatnya ke New York, Amerika Serikat.
Tak hanya populer di kawasan Eropa Timur seperti Rusia dan Ukraina, Brainly juga mendapat sambutan besar di Indonesia, terutama di kalangan pelajar Gen Z awal.
Brainly memberikan kemudahan bagi siswa dalam menyelesaikan pekerjaan rumah. Pengguna bisa bertanya, menjawab, serta mendapat poin yang meningkatkan reputasi mereka di komunitas.
Inilah yang membuat platform tersebut sangat interaktif dan terasa seperti "sosial media-nya anak sekolah".
Ledakan Pengguna Saat Pandemi
Pandemi COVID-19 membawa berkah tersendiri bagi Brainly. Ketika sekolah dilakukan secara daring, platform ini mengalami lonjakan pengguna hingga 70%. Brainly menjadi alat bantu belajar yang tak tergantikan karena mampu menghadirkan solusi praktis atas tugas-tugas siswa.