Tak sedikit pula warganet terkejut dan penasaran, ada masalah apa dengan Valeria hingga ia menjadi korban pembunuhan.
Warganet bertanya-tanya apakah Valeria memiliki masalah pribadi atau terlibat dalam konflik sebelumnya.
Pihak berwenang Meksiko, melalui kantor kejaksaan Jalisco, sedang menyelidiki kasus ini sebagai femisida, yaitu pembunuhan berdasarkan gender.
Femisida didefinisikan sebagai pembunuhan terhadap wanita secara sengaja karena status gender mereka. Sering kali masalah ini ditandai dengan motif s**sual, atau permasalahan pribadi dan termasuk kekerasan berbasis gender.
Hingga kini, kasus kematian Valeria masih dalam tahap penyelidikan dan polisi masih mencari pelakunya.
Kasus ini menyoroti tantangan besar dalam menangani kekerasan berbasis gender di Meksiko, di mana sistem hukum sering kali lambat atau tidak efektif dalam memberikan keadilan.
Sebagai informasi, Meksiko dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat femisida tertinggi di Amerika Latin.
Data PBB menyebut rata-rata per hari 10 perempuan di Meksiko jadi korban kekerasan dan dibunuh oleh pasangan atau kerabat mereka sendiri.
Kasus Valeria Marquez menambah daftar panjang korban kekerasan di negara ini dan menunjukkan bahwa wanita di Meksiko masih hidup dalam ancaman konstan.
Di Indonesia, kasus ini memicu diskusi tentang keselamatan wanita di era digital. Melalui live streaming, seseorang bisa menjadi sasaran atau target kejahatan yang tak terduga sebelumnya.
Warganet diimbau untuk tetap waspada dan melaporkan aktivitas mencurigakan di platform media sosial karena siapapun bisa menjadi sasaran kejahatan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini