Saat ini, tren berubah ketika beberapa habib memiliki pengikut fanatik yang siap mengikuti apa pun perintah mereka, bahkan dalam ranah politik.
Fenomena ini mencapai puncaknya dalam beberapa peristiwa besar, salah satunya ketika lebih dari satu juta orang berkumpul dalam aksi di Monas. Kyai Said mengakui bahwa mengumpulkan massa sebanyak itu adalah hal yang luar biasa, tetapi ia mempertanyakan substansi dari pergerakan tersebut.
"Tidurnya di masjid, sholatnya di lapangan. Mana Islam? Gampang aja," lanjut Kyai Said.
Akbar Faizal sebagai host dalam podcast itu pun mempertanyakan bahwa sebagian dari kelompok ini memiliki agenda politik, tetapi membungkusnya dalam narasi religius yang menarik bagi masyarakat awam.
"Memanfaatkan masyarakat yang awam. Iya. Lihat ceramahnya, pokoknya kalau ikut habib surga, kira-kira gitulah," jawab Kyai Said.
Salah satu strategi yang digunakan adalah menjanjikan surga kepada para pengikutnya hanya dengan mengikuti seorang habib.
Bahkan, ada klaim bahwa malaikat Munkar Nakir tidak berani bertanya di alam kubur kepada seorang habib tertentu.
Hal itu berpotensi menyesatkan dan menjauhkan umat dari ajaran Islam yang sebenarnya menekankan amal dan ketakwaan sebagai kunci keselamatan.
Selain itu, mitos mengenai habib yang mengalami Miraj hingga 70 kali semakin memperkuat kultus individu. Padahal, dalam sejarah Islam, peristiwa Miraj hanya dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Tidak ada catatan dari para ulama besar yang menyebut bahwa ada manusia lain yang mengalami hal serupa.
"Syekh Habib itu ketika mati Munkar Nakir aja gak berani nanya. Habib si fulan itu pernah miraj 70 kali," ujar Kyai Said.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!