Kamis, 4 Juni 2026

Polres Jember Ungkap Motif di Balik Pengeroyokan Anggota Polisi oleh PSHT

Photo Author
Angga Juli Setiawan, Sketsa Nusantara
- Selasa, 23 Juli 2024 | 17:09 WIB
Kapolres Jember AKBP Bayu Pratama Gubunagi. (SketsaNusantara.id / Angga Juli Setiawan )
Kapolres Jember AKBP Bayu Pratama Gubunagi. (SketsaNusantara.id / Angga Juli Setiawan )

SketsaNusantara.id - Kepolisian Resor (Polres) Jember mengungkap motif terjadinya kasus pengeroyokan kepada anggota polisi, oleh Perguruan Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).

Kasus yang mencuat satu hari terakhir ini, berasal dari adanya agenda suran agung yang dilakukan oleh PSHT.

Pihak kepolisian melakukan pengamanan dengan membagi personelnya ke beberapa titik, mulai dari padepokan hingga jalur yang dilintasi saat berkonvoi.

Baca Juga: Kronologi 5 Polisi Dikeroyok Anggota PSHT di Jember, Wakapolres Beri Ultimatum

“Jadi perlu kami jelaskan, bahwa personelnyang kami siapkan cukup banyak dan tersebar ke beberapa titik salah satunya di lokasi padepokan PSHT hingga sepanjang jalur konvoi,” ujar Kapolres Jember AKBP Bayu Pratama Gubunagi saat dikonfirmasi SketsaNusantara.id di Polres Jember, Selasa 23 Juli 2024.

Kasus pengeroyokan ini menurutnya, berawal dari proses penjagaan di pertigaan Transmart yang diisi oleh 5 orang personel dan salah satunya adalah korban Aipda Parmanto Indrajaya.

“Ketika kejadian tersebut, ada anggota Pasukan Pengamanan Terate (Pamter) yang masuk ke dalam mobil patroli milik Polsek Kaliwates,” imbuhnya.

Ia menerangkan, saat sebelum kejadian para Pamter ini masuk ke dalam mobil untuk mengamankan diri dan atas kemauan sendiri.

Baca Juga: PSHT Keroyok Polisi, Polres Jember Buru Pelakunya, Kapolres: Jumlahnya 10-15 Orang

“Hal ini dianggap oleh oknum PSHT yang terduga pelaku diamankan oleh polisi, sehingga terjadi kejadian pengeroyokan dan polisi menjadi sasaran amuk,” jelasnya.

AKBP Bayu menyampaikan, kesalahpahaman ini menjadi pemicu terjadinya pengeroyokan kepada Aipda Parmanto Indrajaya.

“Maka dari itu kesalahpahaman ini menjadi pemicu terjadinya pengeroyokan,” tegasnya.

Ia menambahkan, terkait adanya bukti tambahan berupa batu dan bambu yang ada tetesan darah ini masih akan dilakukan pendalaman.

“Masih kami dalami, memang ada batu dan bambu yang tertetes darah. Apakah ini digunakan untuk memukul atau hanya terkena ceceran darah dari korban,” ungkapnya.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X