Peristiwa ini menyita perhatian, terlebih terkait peringatan tsunami yang dikeluarkan pasca gempa dahsyat 7,1 SR mengguncang Jepang.
Tak sedikit warganet Indonesia turut menyoroti gempa tersebut yang dikhawatirkan ikut berdampak ke Indonesia.
Terkait hal ini, Dr. Daryono, memberikan penjelasan. Mantan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG itu menyebut bahwa gempa yang terjadi Kumamoto, Jepang dipicu oleh aktivitas tektonik pada kedalaman dangkal dan menciptakan guncangan dahsyat yang bersifat merusak.
"Pulau Kyushu kembali berguncang hebat saat gempa bumi dangkal berkekuatan Mg.6,8 memicu kepanikan di Prefektur Kumamoto, Jepang. Kedangkalan hiposenter tersebut memicu guncangan tanah yang sangat ekstrem," tulis Daryono dalam unggahan di akun Instagram @daryono_edukator_kebencanaan, dikutip SketsaNusantara.id pada hari Rabu, 29 Juli 2026.
"Skala intensitas seismik Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat level maksimum Shindo 7 di beberapa titik wilayah. Dalam standar pemetaan gempa di Jepang, Shindo 7 merupakan tingkatan tertinggi yang menggambarkan guncangan dahsyat hingga mampu merubuhkan struktur bangunan tahan gempa," lanjutnya.
Lebih lanjut, Daryono menjelaskan mengenai peringatan tsunami yang dikeluarkan pasca gempa 7,1 SR mengguncang Jepang.
"Meski pusat gempa berada di daratan, guncangan keras yang menyebar luas di seluruh wilayah Kyushu ini secara spontan mengaktifkan peringatan tsunami setinggi 1 meter untuk kawasan pesisir, terutama di sekitar Laut Ariake dan Laut Yatsushiro. Namun, berdasarkan pemantauan, tidak ada catatan tsunami dari peristiwa gempa ini," tuturnya.
Menurutnya, gempa dahsyat yang mengguncang Kumamoto Jepang berkaitan dengan pergerakan sesar aktif sejak dekade sebelumnya.
"Tidak ada catatan tsunami dari peristiwa gempa ini. Dilihat dari konfigurasinya, gempa tersebut berada dalam satu sistem zona sesar dengan peristiwa gempa besar M7,0 yang mengguncang Kumamoto pada tahun 2016 lalu," kata Daryono.
"Pusat gempa kali ini diduga kuat berasosiasi dengan Zona Sesar Hinagu, persis di sebelah barat daya dari segmen yang pecah sepuluh tahun silam. Sesar Hinagu sendiri merupakan struktur sesar aktif di darat yang membentang dari wilayah tengah hingga barat daya Prefektur Kumamoto," ujarnya.
"Secara tektonik, sesar ini berkarakteristik geser mendatar mengiri (left-lateral strike-slip) dengan sedikit komponen vertikal (oblique-normal). Sesar Hinagu tersambung langsung dengan Sesar Futagawa di bagian utara, di mana kedua struktur ini menjadi kompartemen utama yang menyerap akumulasi energi tektonik regional Pulau Kyushu," jelasnya.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) itu juga menjelaskan mengenai potensi terjadinya gempa susulan, sehingga warga Jepang masih harus tetap waspada sesuai anjuran otoritas setempat.
"Para pakar seismologi memperingatkan bahwa pelepasan energi pada gempa M6,8 ini belum tentu menandakan akhir dari aktivitas seismik," tulis Daryono.
Artikel Terkait
Gempa Bumi Dahsyat Terjadi di Myanmar dan Thailand, Apakah Berdampak Pada Indonesia?
Trending X! Suara Gemuruh Terdengar Keras Saat Bogor Diguncang Gempa 4,1 SR yang Memicu Kerusakan Rumah Warga, Begini Penjelasan BMKG
Apa Itu Sesar Baribis? Mengenal Sesar Penyebab Gempa Bekasi 4,9 M, Terpanjang di Pulau Jawa hingga Asal Usul Namanya
Simulasi Detik-Detik Gempa 6,5 di Jember, 885 Pelajar dan Guru Evakuasi dari Gedung 3 Lantai
Sekolah Berjarak 100 Meter dari Pantai, SMPN 3 Puger Jember Latih Siswa Hadapi Gempa dan Tsunami
BMKG Rilis Peringatan Dini Tsunami di Maluku Utara dau Sulawesi Utara Pasca Gempa 7,6 Magnitudo, Minta Warga Tenang dan Waspada