Rabu, 1 Juli 2026

Krisis Air Bersih Meluas, Sekitar 100 KK di Pakusari Jember Terdampak Kekeringan, PMI Siapkan Langkah Penanganan

Photo Author
Angga Juli Setiawan, Sketsa Nusantara
- Rabu, 1 Juli 2026 | 19:17 WIB
Proses assessment kekeringan di Jember (Dok PMI Jember)
Proses assessment kekeringan di Jember (Dok PMI Jember)

SketsaNusantara.id – Krisis air bersih mulai dirasakan warga Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember.

Menyikapi kondisi tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Jember langsung mengirimkan tim assessment untuk memetakan dampak kekeringan sekaligus menyiapkan langkah penanganan yang dibutuhkan masyarakat.

Tim assessment diterjunkan pada Rabu 1 Juni 2026, Kegiatan pendataan dimulai sekitar pukul 13.00 WIB dan berakhir pada pukul 15.25 WIB setelah seluruh informasi di lapangan berhasil dihimpun.

Baca Juga: PMI Jember Siagakan Truk Tangki Air Bersih dan Ambulans Hadapi Ancaman Kekeringan Akibat El Nino

Ketua PMI Kabupaten Jember, Zainollah, mengatakan proses assessment menjadi tahapan penting sebelum organisasi menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga yang terdampak.

"Assessment dilakukan agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan. Dari hasil pendataan, warga masih sangat membutuhkan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari hingga sumber air kembali normal," ujar Zainollah.

Menurut dia, hasil pendataan tersebut akan menjadi dasar bagi PMI dalam menentukan bentuk intervensi yang paling dibutuhkan masyarakat selama musim kemarau masih berlangsung.

Baca Juga: Bukti Kesiapsiagaan Relawan, SIBAT dan KSR PMI Jember Evakuasi Bocah yang Pingsan Saat Kirab Petik Laut Puger

Pihaknya juga memastikan koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait akan terus dilakukan agar penanganan krisis air bersih dapat segera direalisasikan.

Sementara itu, Kepala Markas PMI Kabupaten Jember, Imam Muslim Al Hariri, mengungkapkan bahwa hasil assessment menunjukkan sekitar 80 hingga 100 kepala keluarga terdampak kekeringan di wilayah tersebut.

Ia menjelaskan sedikitnya 10 sumur gali milik warga sudah tidak lagi mengandung air. Selain itu, dua sumur bor yang selama ini menjadi sumber utama pasokan air bersih juga dilaporkan telah berhenti mengalir.

Baca Juga: KSR PMI Unmuh Jember Gelar Donor Darah, Ajak Mahasiswa untuk Aktif dalam Aksi Kemanusiaan

Kondisi tersebut memaksa sebagian warga mencari sumber air alternatif meskipun kualitasnya jauh dari ideal.

"Sebagian warga terpaksa memanfaatkan sumur bor di area TPA, namun kondisi airnya berbau. Ada juga yang mengambil air dari bekas galian tambang bata, tetapi airnya keruh dan berbau sehingga kurang layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari," kata Imam Muslim Al Hariri.

Halaman:

Editor: Angga Juli Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X