Demonstrasi pada 21 April 2026 yang dimotori Aliansi Perjuangan Masyarakat Kaltim ini membawa 2.000 orang yang berasal dari berbagai elemen.
Selain mahasiswa, sebanyak 56 organisasi masyarakat juga turut hadir dalam unjuk rasa tersebut.
Sementara itu, Polda Kalimantan Timur menerjunkan sekitar 1.700 personel gabungan untuk mengamankan aksi.
3. Daftar Tuntutan Demo Kaltim 21 April 2026
Aliansi Perjuangan Masyarakat Kaltim menyakatan, aksi unjuk rasa ini merupakan respons terhadap sejumlah kebijakan Rudy Mas’ud yang dinilai merugikan rakyat.
Beberapa di antaranya yakni pengadaan mobil dinas seharga Rp8,5 miliar danr renovasi rumah dinas gubernur yang menghabiskan anggaran Rp25 miliar.
Massa kemudian membawa 3 tuntutan dalam aksi demonstrasi 21 April 2026, salah satunya adalah audit kebijakan anggaran Pemprov Kaltim.
Tuntutan kedua, massa mendesak agar praktik KKN (korupsi, kolusi dan neopotisme) di lingkungan Pemerintahan Kaltim dihentikan.
Dan terakhir, massa juga menuntut DPRD Kaltim menjalankan fungsi pengawasan dengan independen.
Tuntutan ketiga ini merupakan respons kekhawatiran publik akan terjadinya kemungkinan penyalahgunaan wewenang yang melibatkan hubungan saudara kandung antara Gubernur Kaltim dengan Ketua DPRD Kaltim.
Selain itu, massa juga menuntut agar Gubernur Kaltim mengundurkan diri karena dianggap sudah tak lagi dipercaya rakyat.
4. Respons DPRD Kaltim
7 Fraksi DPRD Kalimantan Timur akhirnya sepakat untuk menggulirkan hak angket atas kebijakan pemerintah daerah.
Artikel Terkait
Bukan KA Sangkuriang, Inilah Rute Kereta Api Terpanjang di Indonesia, Total Jarak Tempuh hingga 1.031 KM!
Ribuan Warga Langkat Demo Bansos Belum Merata, Gerbang Kantor Bupati Roboh, Afandin Siap Temui Menteri Sosial
BBM Nonsubsidi Sudah Naik, Pertamax Kapan? Bahlil Ungkap Skenario Penyesuaian Harga dan Peringatan ke Masyarakat
Viral Guru Dilecehkan Murid-Murid hingga Acungkan Jari Tengah, Ini yang Dilakukan Dispendik Jawa Barat
Apa Itu Kanker Serviks? 1800 Perempuan di Malang Jalani Skrining Serentak dan Puluhan Terdeteksi
Mengapa Perempuan Indonesia Harus Sekolah Tinggi Meski 'Ujung-Unjungnya' ke Dapur Juga? Ini Alasannya Menurut R.A Kartini