SketsaNusantara.id - Palang Merah Indonesia Kabupaten Jember menggelar Musyawarah Kerja Kabupaten sebagai agenda tahunan organisasi.
Forum ini menjadi ruang evaluasi kinerja sekaligus perumusan program kerja tahun 2026. Penguatan pelayanan dan relawan menjadi perhatian utama.
Mukerkab PMI Jember juga dimanfaatkan untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah.
Sinergi lintas sektor dinilai penting agar pelayanan kemanusiaan berjalan optimal. Agenda tersebut dihadiri pengurus PMI, perwakilan pemerintah, dan relawan.
Dalam forum itu, PMI Jember diarahkan untuk menghadapi tantangan strategis ke depan.
Salah satu fokus utama adalah peningkatan mutu layanan darah. Sertifikasi menjadi bagian penting dari upaya tersebut.
Kepala Bidang Organisasi PMI Jawa Timur, Muhammad Taufiq, menyampaikan arahan mewakili Ketua PMI Jatim.
Ia menekankan adanya tanggung jawab besar yang harus dijalankan PMI Jember. Fokus tersebut berkaitan langsung dengan pelayanan masyarakat.
“Ada tugas berat bagi PMI Jember untuk mendapatkan sertifikat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik). Ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun sangat krusial agar PMI dapat memberikan pelayanan darah terbaik bagi masyarakat,” tegasnya.
Selain pelayanan darah, pembinaan relawan juga menjadi perhatian. PMI Jawa Timur menilai regenerasi relawan harus terus dijaga.
Peran Palang Merah Remaja dinilai strategis untuk keberlanjutan organisasi.
Muhammad Taufiq meminta dukungan pemerintah daerah agar pembinaan PMR tetap berjalan. Relawan muda di tingkat sekolah diharapkan terus aktif.
Artikel Terkait
PMI Jember Gelar Program Donor Darah Berhadiah Beras 2,5 Kg, Kuota Terbatas Setiap Hari
Perkuat Ketangguhan Bencana, PMI Jember dan Palang Merah Jepang Gelar Pelatihan Manajemen Tanggap Darurat dan Posko
Berkat Simulasi dengan Ambulans, Peserta Diklat PMR Wira di Markas PMI Jember Meningkat hingga 46 Pelajar
Pulang Operasi SAR Gunung Slamet, Mobil Elf PMI Kota Magelang Kecelakaan di Purbalingga, Diduga Karena Rem Blong
Hari Kedua Pelatihan MTDB PMI Jember Bahas Isu Sensitif Pengungsian, dari PSEA hingga Konsep Bilik Asmara