SketsaNusantara.id - Sebentar lagi dalam kalender kita akan memiliki 2 perayaan sekaligus yakni malam 1 suro yang jatuh pada 6-7 Juli 2024 dan 1 Muharram yang merupakan Tahun Baru Islam pada 7 Juli 2024.
Lalu bagaimanakah sejarah dari dua sistem kalender tersebut sehingga memiliki dua perayaan yang bersamaan?
Begini penjelasannya yang dilansir dari SketsaNusantara.id dikutip dari laman Kemdikbud.
Secara nasional, masyarakat mengenal kalender Masehi yang digunakan secara nasional, namun selain Masehi masyarakat kita masih memiliki dua sistem kalender lagi yakni kalender Jawa dan kalender Islam.
Sistem perkalenderan di Indonesia yang dikenal saat ini tak jauh dari peranan seorang Sultan Agung yang merupakan raja dari kesultanan Mataram yakni Sultan Agung yang memerintah sejak 1613 hingga 1645.
Asal mula kalender Jawa
Sultan Agung yang memerintah Mataram kala itu merupakan raja ketiga kesultanan Mataram, dimana saat itu masyarakat Jawa menggunakan kalender Saka yang berasal dari India.
Kalender Saka sendiri merupakan kalender yang berdasarkan pergerakan matahari, sangat berbeda dengab sistem kalender Hijriyah atau kalender Islam yang dipakai oleh umat Islam kala itu yang berdasarkan pergerakan bulan.
Sehingga perayaan-perayaan adat yang diselenggarakan kerajaan tidak bisa selaras dengan perayaan-perayaan Islam.
Sementara itu Sultan Agung menginginkan perayaan-perayaan adat dan perayaan-perayaan Islam dapat diselenggarakan bersamaan.
Untuk itulah Sultan Agung kemudian membuat sebuah sistem penanggalan baru yang merupakan perpaduan antara kalender Saka dengan Kalender Hijriyah.
Sistem kalender baru inilah yang kemudian kita kenal sebagai Kalender Jawa atau kalender Kesultan Agungan yang meneruskan tahun Saka.