SketsaNusantara.id - Dalam khazanah kuliner tradisional Jawa, memasak bukan sekadar aktivitas mengolah bahan pangan, melainkan praktik pengetahuan yang sarat makna dan kebijaksanaan.
Hal ini tercermin dari cara masyarakat Jawa memperlakukan tanaman seperti binahong, gendola hijau, dan gendola merah. Ketiganya kerap dianggap serupa, padahal memiliki fungsi, karakter, serta frekuensi konsumsi yang berbeda.
Dilansir SketsaNusantara.id dari penjelasan secara rinci dalam sebuah unggahan akun X @Excel_Dee yang menyoroti hubungan antara masakan tradisional Jawa dan ilmu titen, sebuah pengetahuan berbasis pengamatan turun-temurun.
“Dalam dapur tradisional Jawa, setiap tanaman punya watak. Tidak semua yang bisa dimasak pantas dijadikan menu harian,” tulisnya.
Gendola hijau menjadi tanaman pertama yang dijelaskan. Daun gendola hijau telah lama dikenal sebagai sayur dapur yang umum dikonsumsi. Teksturnya lembut, berlendir halus, dan mudah menyatu dengan kuah.
Dalam unggahan tersebut ditegaskan bahwa gendola hijau dianggap adem, cocok dimasak bening atau lodhe ringan. Karakter ini menjadikannya aman dikonsumsi secara rutin sebagai menu harian.
Baca Juga: Kaya Hayati, Tapi Terancam Tambang: Kenali Kekayaan Tumbuhan dan Satwa Langka Asli Raja Ampat
Menurut ilmu titen, gendola hijau biasanya dipilih ketika badan terasa panas, perut kurang nyaman, atau setelah mengonsumsi makanan berat. Sifatnya yang ringan membuat sayuran ini dipercaya membantu menyeimbangkan kondisi tubuh.
Oleh karena itu, gendola hijau menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian dapur Jawa, khususnya dalam masakan rumahan.
Berbeda dengan gendola hijau, gendola merah memiliki karakter yang lebih kuat. Warna merah keunguan pada batang dan daunnya menjadi penanda adanya pigmen alami yang lebih dominan.