Sama seperti influenza pada umumnya, penularan superflu terjadi melalui droplet atau percikan yang terpendar ketika seseorang batuk, bersin, atau berbicara.
Kontak langsung seperti berbagai minum atau makan dengan orang yang terkena flu juga dapat meningkatkan risiko penularan penyakit.
Gejala superflu dilaporkan lebih intens dibanding flu biasa. Penyakit ini dapat disertai dengan gejala ringan mulai dari bersin, demam, hidung tersumbat hingga badan mengigil.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai jika penderita mengalami demam tinggi, nyeri otot ekstrem, kelelahan berat, batuk kering yang terlalu sering disertai dengan nyeri tenggorokan hingga merasakan sakit kepala hebat dan sesak napas.
Karena sifatnya yang agresif, superflu sering membuat penderitanya merasa sangat lemah dan membutuhkan waktu pemulihan lebih lama. Di beberapa negara, pasien terkena virus ini harus mendapat perawatan intensif hingga mengakibatkan kematian.
WHO juga menekankan beberapa kelompok masyarakat lebih rentan mengalami gejala berat jika terinfeksi superflu, di antaranya adalah balita dan lansia.
Selain itu, penderita penyakit kronis dan anak dengan penyakit jantung bawaan hingga pasien kanker serta individu yang punya sistem imun rendah juga rentan terkena resiko tertular flu.
Influenza jenis ini dapat dideteksi dengan melakukan rapid test atau swab. Namun untuk memastikan varian H3N2 subclade K, diperlukan pemeriksaan genome sequencing di laboratorium khusus.
WHO terus memantau perkembangan penyebaran virus ini dan mendukung negara-negara lain untuk memberikan perlindungan termasuk dengan memberikan vaksin influenza sebagai pencegahan.
Imunisasi influenza menjadi salah satu cara paling efektif untuk mengurangi risiko penularan di Indonesia sekaligus menekan tingkat keparahan penyakit.
Selain itu, masyarakat juga diimbau kembali disiplin menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Kemenkes menghimbau masyarakat untuk memakai masker saat sakit, menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin dan rutin mencuci tangan dengan sabun.