SketsaNusantara.id – Belakangan ini masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan kabar mengenai "superflu". Istilah ini terdengar luas di kalangan masyarakat yang menggambarkan jenis influenza dengan penularan lebih cepat dibanding flu biasa.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengonfirmasi bahwa hingga akhir Desember 2025 ini telah ditemukan 62 kasus infeksi influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia.
Temuan tersebut berasal dari sistem surveilans nasional influenza yang terdiri dari 88 sentinel ILI (Influenza Like Illness) dan SARI (Severe Acute Respiratory Infections) yang tersebar di berbagai fasilitas kesehatan.
Juru Bicara Kemenkes RI, menjelaskan bahwa kasus tersebut teridentifikasi melalui pemeriksaan laboratorium kesehatan masyarakat dan laboratorium rujukan berstandar biosafety level 3 (BSL-3).
Dari delapan provinsi yang melaporkan kasus, 3 wilayah di Indonesia tercatat sebagai penyumbang terbanyak, yaitu Jawa Timur (Jatim), Kalimantan Selatan (Kalsel), dan Jawa Barat (Jabar).
Jawa Timur menjadi perhatian khusus karena tingginya laporan kasus di wilayah tersebut dibandingkan daerah lain.
Lantas, apa itu Superflu? Mengapa virus ini ramai jadi perhatian dan apa saja gejala hingga cara pencegahannya?
Dilansir SketsaNusantara.id dari situs resmi WHO, Superflu merupakan infeksi pernapasan akut yang disebabkan oleh virus influenza yang beredar secara global sepanjang tahun.
Superflu merupakan istilah populer yang digunakan masyarakat untuk menyebut infeksi virus influenza A (H3N2) subclade K. Varian ini bukanlah virus baru, melainkan evolusi dari flu musiman yang telah lama ada.
Namun, yang membuatnya menjadi sorotan adalah kemampuan penularannya yang lebih cepat dan gejala yang cenderung lebih berat dibanding flu biasa.
Varian ini pertama kali menjadi perhatian medis di Inggris dan Amerika Serikat pada 2025 sebelum kemudian dilaporkan di Jepang dan akhirnya terdeteksi pula di Indonesia.
WHO mencatata banyaknya negara yang mengalami peningkatan kasus influenza selama musim dingin. Situasi serupa kini perlu diwaspadai masyarakat Indonesia mengingat saat ini memasuki musim hujan yang juga memicu meningkatnya penyebaran kasus penyakit pernapasan.