SketsaNusantara.id - Tape singkong merupakan salah satu makanan tradisional Indonesia yang sering dianggap sehat karena diyakini mengandung probiotik alami.
Namun sebuah unggahan edukatif di akun Instagram @regainyouth.id memaparkan fakta berbeda mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam proses fermentasi tape dan bagaimana pengaruhnya terhadap tubuh manusia.
"Banyak orang percaya tape singkong itu sehat karena katanya ‘mengandung probiotik.’ Padahal… yang terjadi di dalam tubuh bisa sangat berbeda,” tulis Denny Kristiawan membuka penjelasannya yang dilansir SkesaNusantara.id.
Dilansir juga dari laman web resmi dari lynk.id bahwa Denny Kristiawan adalah penasihat kesehatan dan penemu dari regainyouth.id. Ia terkenal di media sosial dan memiliki konten yang berfokus pada kesehatan dan gaya hidup yang lebih baik.
Dalam unggahan tersebut, Denny menjelaskan bahwa pada awalnya, tape memang mengandung bakteri baik. Proses pembuatannya yang menggunakan singkong dan ragi memungkinkan munculnya bakteri seperti Lactobacillus serta berbagai jenis khamir.
“Tape dibuat dari singkong dan ragi, dan proses awal fermentasi memunculkan bakteri seperti Lactobacillus dan khamir,” sebutnya.
Bahkan menurutnya, terdapat temuan menarik dari penelitian lokal tahun 2025 yang berhasil mengidentifikasi beberapa strain dari ragi tape yang potensial sebagai probiotik.
Pada tahap ini, tape memang memiliki manfaat tertentu, karena mikroba baik masih hidup dan aktif.
Namun seiring berlangsungnya fermentasi, terjadi perubahan kimia yang signifikan. Enzim dari ragi mulai memecah pati singkong menjadi glukosa. Hal inilah yang menjadikan tape terasa manis.
“Saat ragi bekerja, enzim memecah pati singkong menjadi glukosa. Itulah kenapa tape terasa manis,” lanjut Denni.
Permasalahannya, glukosa sederhana seperti ini cepat sekali diserap tubuh. Ketika seseorang mengonsumsi tape, gula tersebut langsung masuk ke aliran darah dan memicu lonjakan glukosa secara tiba-tiba.