lifestyle

Apakah Nasi dan Roti Setiap Pagi Diam-Diam Membuat Tubuh Kita Rusak Lebih Cepat?

Kamis, 10 Juli 2025 | 06:00 WIB
Felix Zulhendri saat menjelaskan dampak mengejutkan dari pola sarapan tinggi gula dan karbohidrat di Indonesia. (Youtube MALAKA)

 

SketsaNusantara.id - Sarapan sering dianggap sebagai waktu makan paling penting.

Namun, benarkah pilihan sarapan orang Indonesia justru memperparah kondisi kesehatan diri sendiri?

Dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube MALAKA, Dr. Felix Zulhendri, Ph.D., membeberkan data mengejutkan tentang konsumsi gula dan karbohidrat di Indonesia serta dampaknya pada kesehatan.

Baca Juga: Sensasi Timur Tengah di Tengah Kota Jember, Cobain Nasi Kebuli Basmati Ala Kebuli Yala, Ramah di Kantong Anak Kos

Felix memulai dengan mengungkap data konsumsi tahunan masyarakat Indonesia dari Statista.

Rata-rata, setiap individu mengonsumsi sekitar 120 kilogram beras, 30 kilogram tepung terigu, dan 30 kilogram gula tambahan setiap tahunnya.

Jika dijumlahkan, itu berarti 180 kilogram karbohidrat dan gula dikonsumsi per orang setiap tahun.

Baca Juga: Nasi Kuning Selamat Pagi Hadir di Jakarta, Sajikan Cita Rasa Khas Manado Lengkap dengan Lauk Otentik dan Dibungkus Daun Woka

Angka ini sangat timpang jika dibandingkan dengan konsumsi protein hewani seperti ayam, telur, dan daging yang hanya 10 kilogram per orang per tahun.

Bagi Felix, kenyataan ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia secara tidak sadar sudah kecanduan gula.

Ia menjelaskan bahwa makanan pokok seperti nasi, mie, roti, kentang, hingga sereal mengandung zat pati (starch) yang sebenarnya adalah rantai glukosa.

Begitu masuk ke tubuh, semua itu akan diubah menjadi gula. Menariknya, makanan manis dan karbohidrat ini juga memicu pelepasan hormon dopamin di otak, yang memberikan efek rasa senang dan kenyamanan. Inilah yang membuat banyak orang merasa "tak bisa menolak" makanan-makanan tersebut.

Ia menyoroti bahwa rasa kenyang yang dihasilkan dari karbohidrat sangat singkat.

Halaman:

Tags

Terkini