Preeklamsia dapat menyebabkan komplikasi serius seperti kerusakan organ, gangguan pertumbuhan janin, kelahiran prematur, hingga kematian ibu dan bayi.
Karena sering muncul tanpa gejala awal yang jelas, banyak ibu hamil tidak menyadari mereka mengidap preeklamsia hingga kondisinya memburuk.
Meski belum ada cara pasti untuk mencegah preeklamsia, beberapa langkah dapat dilakukan yakni dengan pemeriksaan rutin untuk memantau tekanan darah dan kadar protein dalam urin.
Ibu hamil juga disarankan menjaga pola makan sehat, konsumsi suplemen sesuai anjuran dokter, hingga manajemen stres yang baik dan melakukan olahraga ringan sesuai dengan kondisi kehamilan.
Dalam kasus RA Kartini, minimnya akses terhadap fasilitas kesehatan dan pengetahuan medis pada masa itu sangat mungkin memperburuk kondisinya.
Kisah ini menjadi pelajaran penting bahwa perjuangan Kartini untuk pendidikan dan kesetaraan, termasuk dalam bidang kesehatan, masih sangat relevan hingga kini.
Kematian RA Kartini akibat dugaan preeklamsia adalah pengingat keras bahwa meski zaman telah berubah, keselamatan ibu hamil masih menjadi isu penting di Indonesia.
Peringatan Hari Kartini bisa juga jadi momen untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan ibu, untuk mengurangi risiko akibat preeklamsia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini