Minggu, 19 Juli 2026

Nyeri Dada GERD atau Serangan Jantung? Kisah Dokter Ini Ungkap Risiko Salah Tafsir Gejala yang Nyaris Fatal

Photo Author
Nurul Huda, Sketsa Nusantara
- Senin, 26 Januari 2026 | 18:30 WIB
Rekaman EKG pasien menunjukkan STEMI inferior, kondisi serangan jantung yang kerap meniru gejala GERD dan nyeri ulu hati. (X/fsapradana)
Rekaman EKG pasien menunjukkan STEMI inferior, kondisi serangan jantung yang kerap meniru gejala GERD dan nyeri ulu hati. (X/fsapradana)

 

SketsaNusantara.id - Nyeri dada kerap menjadi keluhan yang menimbulkan kekhawatiran, baik bagi pasien maupun tenaga medis. Namun, tidak semua nyeri dada berasal dari penyebab yang sama.

Salah satu tantangan terbesar di dunia medis adalah membedakan nyeri akibat gangguan lambung, seperti Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), dengan nyeri akibat serangan jantung yang dapat mengancam nyawa.

Dihimpun SketsaNusantara.id dari pengalaman klinis ini dibagikan oleh dokter jantung, Furqon Satria, melalui akun media sosial X (Twitter) @fsapradana.

Baca Juga: ‎Tanpa Perayaan! Dara Arafah Ulang Tahun ke-26, Rehan Mubarak Beri Pesan Menyentuh

Dalam unggahannya, ia menceritakan kasus seorang pasien yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan keluhan yang sekilas menyerupai GERD, namun ternyata merupakan serangan jantung akut.

“Sedikit cerita tentang kemiripan nyeri akibat serangan jantung dan GERD,” tulis Furqon membuka ceritanya, dilansir SketsaNusantara.id dari akun X @fsapradana.

Pasien tersebut merupakan pria berusia awal 40-an dengan riwayat GERD menahun dan kebiasaan merokok berat.

Baca Juga: Anwar Bab Kembali Jalani Umrah Sebelum Ramadhan Tiba, Ungkap Pesan untuk Keberangkatannya di Tahun Ini

Ia datang ke IGD dengan keluhan nyeri dada yang dirasakan sedikit lebih intens dibandingkan nyeri lambung yang biasa dialaminya.

“Ada pasien yang katanya langganan GERD usia 40an awal, perokok berat. Suatu ketika datang ke IGD karena nyerinya sedikit lebih intens dari biasanya. Disertai mual tapi tidak muntah,” ungkapnya.

Riwayat GERD yang panjang membuat pasien merasa yakin bahwa keluhan tersebut bukanlah sesuatu yang serius. Namun, tim medis IGD tidak serta-merta menganggapnya sebagai gangguan lambung biasa.

Informasi mengenai kebiasaan merokok menjadi salah satu faktor risiko penting yang memicu kecurigaan dokter terhadap kemungkinan serangan jantung.

“Karena dokter IGD mendapatkan informasi riwayat merokok, kecurigaan terhadap serangan jantung meningkat,” lanjut Furqon.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X