Nama Masjid Nganguk sendiri menyimpan berbagai interpretasi. Dalam cerita masyarakat setempat, nama "Nganguk" diambil dari kata "ingak-inguk," yang merujuk pada tindakan Kyai Telingsing yang menengok ke kanan dan kiri sebelum bertemu Sunan Kudus.
Namun, ada juga yang mengaitkan nama tersebut dengan istilah dalam bahasa Kawi, "Hanguk," yang berarti suasana tenang dan damai, cocok untuk tempat uzlah atau pengasingan diri secara spiritual.
Kerja sama Sunan Kudus dan Kyai Telingsing tidak hanya menciptakan masjid, tetapi juga membawa perubahan besar pada wilayah tersebut.
Desa Tajug akhirnya berganti nama menjadi Kudus, diambil dari istilah "al-Quds," yang bermakna suci. Transformasi ini mencerminkan perpaduan nilai-nilai lokal, pengaruh Islam, dan semangat dakwah yang diusung kedua tokoh tersebut.
Melalui cerita ini, terlihat jelas bahwa perjalanan dakwah Sunan Kudus bukan sekadar kisah keagamaan, tetapi juga upaya membangun masyarakat yang berbudaya dan spiritual.
Kolaborasinya dengan Kyai Telingsing menjadi bukti bahwa Islam di Jawa tumbuh melalui harmoni antara tradisi lokal dan pengaruh asing.
Nama Kudus yang kini dikenal luas menjadi saksi bisu dari perjuangan para tokoh besar dalam membentuk identitas keagamaan dan kebudayaan di tanah Jawa.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!