Ibu Alpiah menyebut Pasukan Cakrabirawa yang bertugas membawa para jenderal mendengar jawaban Pierre sebagai pengakuan dirinya adalah Jenderal Nasution.
"Waktu itu jelas Pierre jawab dia cuma ajudan tapi yang namanya Tuhan sudah atur, maka di pendengaran pasukan itu mereka dengar 'Saya Nasution'," lanjut Ibu Alpiah.
"Sama seperti yang ditampilkan di film, sehingga dibawanya Pierre oleh pasukan berseragam itu sampai ditemukan meninggal di Lubang Buaya," pungkas Ibu Alpiah.
Pernyataan Ibu Alpiah dalam video tersebut memperkuat kesaksian Bu Yanti Nasution dan Bapak Hamdan Mansjur.
Keduanya merupakan saksi mata terakhir yang sempat melihat Pierre masih hidup saat menghadapi pasukan penculik masuk ke halaman samping rumah Jenderal Nasution pada tanggal 30 September 1965.
Pierre yang kewalahan menghadapi pasukan G30S PKI akhirnya disita senapan Garand miliknya dan diikat di pohon depan paviliun rumah sebelum digiring masuk ke dalam truk.
Peristiwa penangkapan itu berjalan sangat cepat hanya sekian menit dan Pierre Tendean mengambil keputusan ternekat dalam hidupnya dengan mengorbankan diri melawan pasukan G30S PKI untuk menjaga keselamatan orang lain terutama Jenderal Nasution dan keluarganya.
Pierre Tendean yang dibawa ke Lubang Buaya ditemukan tewas bersama 6 perwira tinggi lainnya dan dimakamkan pada 5 Oktober 1965 di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.
Sikap Pierre Tendean yang gagah berani melawan komunisme dan karakter luhur yang selalu menyelimuti jiwa sang patriot itulah yang masih dikenang sebagai Pahlawan Revolusi saat ini.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!