jelajah

Terkuak Misteri Detik-Detik Gugurnya Kyai Hamid Dimyathi Pasuruan Karena Kekejaman PKI, Sempat Dikira Nyamar!

Senin, 23 September 2024 | 20:00 WIB
Potret PKI yang juga kejam kepada Kyai Hamid Dimyathi. (YouTube Cerita Kyai)

SketsaNusantara.id- Kyai Hamid Dimyathi, merupakan seorang pemuka agama yang turut berjuang menghadapi serangan PKI.

Di balik kegigihannya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Rupanya ada kabar Kyai Hamid Dimyathi yang sempat misterius, akhirnya terungkap.

Yakni kabar mengenai detik-detik gugurnya tokoh agama yang berasal dari Kabupaten Pacitan.

Baca Juga: Istri Letjen Suprapto, Perempuan yang Bertahan Hidup dari Kisah Tragis Kematian Sang Suami Korban Kekejaman G30S PKI

Melansir dari pacitankab.go.id, ia merupakan sosok generasi keempat dari pendiri Perguruan Islam Pondok Tremas, Pacitan.

Kyai Hamid Dimyathi dikenal sebagai sosok mahkota Pesantren Tremas. Sosoknya juga terpanggil dalam revolusi merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ia juga bertanggung jawab untuk menjadi Ketua Masyumi Pacitan dan Anggota KNIP. Sebelumnya juga sudah merintis dalam pembentukan Kementrian Agama.

Baca Juga: Fakta Menarik di Balik Kemegahan Candi Gunung Gangsir di Pasuruan, Ternyata Gaya Arsitekturnya Perpaduan Ini...

Menjadi tokoh Islam yang terkemuka. Tentu ia menjadi sasaran utama dalam pemberontakan Madiun yang terjadi pada 18 September 1948.

Situasi tersebut membuat Kyai Hamid memutuskan untuk meminta bantuan ke Pemerintah Pusat di Yogyakarta.

Sejak saat itu, tidak ada informasi lagi mengenai Kyai Hamid dan pengiringnya yang tidak pernah kembali ke Tremas.

Baca Juga: Ijazah Kyai Hamid Pasuruan: Doa Wirid Al-Fatihah untuk Mendapatkan Keajaiban dalam Hidup, Bacalah Sebanyak…

Akhirnya setelah pencarian cukup lama. Telah ditemukan jejak Kyai Hamid Dimyathi dalam harian Merdeka edisi 18 Oktober 1948.

Kabar itu dilayangkan melalui berita yang menuliskan bahwa ditemukan jasad di dekat Solo. Jasad tersebut merupakan tindakan kejam dari para PKI.

Halaman:

Tags

Terkini