Dalam perjalanan kariernya, Parman menunjukkan dedikasi yang tinggi terhadap tugasnya dan terlibat dalam berbagai operasi militer yang bertujuan untuk menjaga kedaulatan negara.
Pada Desember 1945, Parman diangkat menjadi staf markas besar kepala polisi di Yogyakarta. Ia kemudian terlibat dalam gerilya selama agresi militer 2.
Setelah agresi militer 2 pada tahun 1949 ia ditunjuk sebagai staf gubernur Jakarta Raya.
Lalu kemudian ia diangkat menjadi asisten satu Menpangat bidang intelijen dengan pangkat Brigadir Jenderal lalu naik menjadi Mayor Jenderal pada Agustus 1964.
Saat menjabat sebagai Mayor Jenderal itulah pengaruh PKI telah meluas dan menjadi musuh Angkatan Darat.
Hingga kemudian PKI menyebarkan opini publik bahwa Angkatan Darat berniat menggulingkan kepemimpinan Sukarno dan mendesaknya agar membentuk angkatan kelima yang beranggotakan buruh dan tani yang dipersenjatai.
Parman merupakan salah satu orang yang menentang keras rencana tersebut sehingga membuat PKI marah dan menjadikannya salah satu sasaran utama PKI pada peristiwa berdarah selanjutnya.
Baca Juga: Profil Ahmad Yani, Jenderal Kesayangan Bung Karno yang Gugur dalam Peristiwa G30S PKI
Peristiwa G30S/PKI
Pada malam 30 September 1965, S. Parman menjadi salah satu korban penculikan oleh anggota Gerakan 30 September (G30S) yang diduga terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Ia diculik bersama dengan beberapa jenderal lainnya dan dibunuh dalam peristiwa yang mengguncang Indonesia tersebut.
Parman dikenal sebagai sosok yang berani dan tegas dalam menanggapi ancaman terhadap negara, dan pengorbanannya diakui sebagai salah satu tindakan heroik dalam sejarah Indonesia.