jelajah

Benarkah Prasasti Tegalturi di Daerah Maospati Jadi Saksi Tragedi Mahapralaya? Ternyata Begini Kisahnya...

Senin, 16 September 2024 | 22:00 WIB
Situs Kuno Prasasti Tegalturi di Magetan. (instagtam.com/@magetanmewah)

SketsaNusantara.id- Situs Prasasti Tegalturi adalah salah satu situs kuno yang terletak di Desa Mranggen, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Prasasti Tegalturi atau yang sering disebut juga dengan Watugilang ini dikeramatkan oleh masyarakat setemlat dan dipercaya memiliki banyak hal dan kisah yang tersimpan didalamnya.

Tetapi sayangnya, sampai hari ini belum diketahui apa sebenarnya isi dari tulisan yang ada pada Prasasti Tegalturi tersebut karena aksara yang aus.

Baca Juga: Misteri Temuan Artefak Kerajaan Majapahit di Situs Keputren, Benarkah Mengungkap Jejak Sejarah Pleret yang Tersembunyi?

Meskipun demikian, tempat adanya situs kuno ini yang ada di wilayah Maospati disebut sebagai pusat Kerajaan Medang atau Mataram Kuno pada Masa pemerintahan Raja Dharmawangsa Teguh.

Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan keterkaitan antara kematian Raja Dharmawangsa Teguh dengan Wilayah Maospati di tragedi Mahapralaya yang dikutip SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Jurnal Petualang.

Berdasarkan literasi sejarah pada tahun 991 Masehi, Raja Dharmawangsa Teguh naik tahta dengan pusat Kerajaan di Wotan atau di masa kini termasuk ke dalam wilayah Maospati, Magetan.

Baca Juga: Wisata Sejarah Situs Cagar Budaya Benteng Nippon, Masih Berdiri Kokoh hingga Kini di Cakru Jember

Selanjutnya pada tahun 992 Masehi, Raja yang baru memerintah kerajaan selama setahun itu memutuskan untuk menyerang Kerajaan Sriwijaya di Sumatera.

Kerajaan Medang berhasil menang, namun mereka dipukul mundur dan diusir dari tanah Sumatera oleh Sriwijaya pada tahun 997 Masehi.

Kemudian pada tahun 1016 Masehi, Kerajaan Sriwijaya melakukan penyerangan balik kepada Kerajaan Medang dimana tragedi itu disebut dengan Mahapralaya.

Baca Juga: Pesona Situs Candi Pringapus dan Konon Merupakan Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang Dibangun Sekitar Tahun 850 Masehi

Sriwijaya menyerang waktu Raja Dharmawangsa Teguh sedang menggelar pernikahan putrinya Galuh Sekar dengan Pangeran Airlangga, Putra Raja Udayana dari Bali.

Seluruh keluarga kerajaan tewas, hanya Airlangga dan Mpu Narotam yang berhasil melarikan diri ke daerah Giriwana.

Halaman:

Tags

Terkini