Pada abad ke-15, Kepulauan Raja Ampat berada di bawah pengaruh Kesultanan Tidore dan Bacan.
Kesultanan Tidore, yang dikenal dengan adat Persekutuan Sembilan, mengangkat empat raja lokal untuk memimpin pulau-pulau besar di Raja Ampat.
Wilayah ini kemudian dikenal dengan nama Raja Ampat yang mengacu pada empat raja tersebut.
Kerajaan Waigeo, dengan pusat pemerintahan di Wewayai, Pulau Waigeo, dikenal memiliki dinamika politik, ekonomi, dan sosial yang menarik.
Di bawah kepemimpinan Gandzun (1900-1918), kerajaan ini berada di bawah kekuasaan Bacan dari Kesultanan Maluku.
Baca Juga: Asia Tenggara Ada di Genggamannya! Cuma Balaputradewa yang Bisa Bawa Kerajaan Sriwijaya Sampai…
Masyarakat Waigeo menggantungkan hidup pada perdagangan, memanfaatkan kekayaan alam Papua yang melimpah.
Kehidupan sosial mereka dikenal dengan jiwa sosial tinggi dan penerapan syariat Islam, meskipun sering kali terjadi benturan dengan adat lokal.
Islam mulai menyebar ke Papua pada abad ke-8 melalui tokoh-tokoh Islam dari Kesultanan Maluku.
Baca Juga: Tidak Hanya Dongeng Belaka! Inilah Bukti Kerajaan Majapahit Pernah Menguasai Pulau Sumatera
Sultan Tidore X, atau Sultan Papua I, memimpin ekspedisi ke Papua dan mengangkat Kaicil Patrawar sebagai penguasa lokal.
Perlahan-lahan, Islam menjadi agama resmi di Kerajaan Waigeo, meskipun perjalanannya terhambat oleh perbedaan budaya dan adat setempat.
Kerajaan Waigeo menghadapi keruntuhan akibat beberapa faktor, termasuk kedatangan Belanda pada abad ke-17 yang menyebabkan perlawanan sengit.