Salah satu momen paling heroiknya adalah ketika ia turun ke medan perang untuk menaklukkan Kerajaan Sadeng pada 1331.
Ketika terjadi perselisihan antara Gajah Mada dan Ra Kembar mengenai posisi panglima, Tribhuwana mengambil alih komando.
Dalam pertempuran itu, Majapahit berhasil menaklukkan Sadeng, Keta, dan Lamajang, yang kemudian dijadikan pusat perdagangan dan pemasok bahan pangan penting bagi kerajaan.
Keberanian Tribhuwana juga tercermin dalam ambisi besarnya untuk memperluas kekuasaan Majapahit.
Pada tahun 1343, ia mengirim Arya Damar untuk menaklukkan Bali dan berhasil mengalahkan Raja Pejeng, Dalem Bedahulu.
Baca Juga: Misteri Hilangnya Istana Kerajaan Majapahit yang Masih Menjadi Teka-teki Besar dan Tak Terpecahkan
Dua tahun kemudian, pada 1347, sepupunya Adityawarman ditugaskan untuk menaklukkan sisa-sisa Kerajaan Sriwijaya dan Malayu.
Akhirnya Majapahit berhasil menguasai seluruh Sumatra, memperluas kekuasaannya hingga ke wilayah barat Nusantara.
Meskipun ia dikenal sebagai ratu pemberani, Tribhuwana akhirnya turun takhta pada 1350, bersamaan dengan wafatnya ibunya, Gayatri.
Baca Juga: Misteri Hilangnya Istana Kerajaan Majapahit yang Masih Menjadi Teka-teki Besar dan Tak Terpecahkan
Namun, prasasti Singasari menyebutkan bahwa ia masih memerintah hingga 1351.
Setelah menyerahkan kekuasaan kepada putranya, Hayam Wuruk, Tribhuwana tetap berperan penting dalam kerajaan sebagai Bhre Kahuripan.
Bhre Kahuripan adalah seorang penasihat agung yang mendampingi putranya dalam memperluas kekuasaan Majapahit ke seluruh Nusantara.
Akhir hidup Tribhuwana Wijayatunggadewi tak banyak tercatat dalam sejarah.