Referendum penting diadakan pada 30 Agustus 1999 dengan dukungan PBB, menunjukkan 78,5 persen pemilih menolak otonomi khusus dan memilih kemerdekaan.
Namun, kelompok pro-Indonesia yang didukung militer melancarkan kekerasan. Untuk menghentikan kekacauan ini, PBB mengirim pasukan perdamaian internasional, INTERFET, pada 20 September 1999.
INTERFET memainkan peran kunci dalam memastikan keamanan dan transisi menuju kemerdekaan Timor Leste.
Pada 25 Oktober 1999, parlemen Indonesia mencabut pencaplokan Timor Leste, dan pada 30 Oktober 1999, PBB membentuk UNTAET untuk mengelola pemerintahan sementara hingga Timor Leste meraih kemerdekaan.
Pada 2001, UNTAET mengadakan pemilihan umum yang dimenangkan oleh Fretilin, yang kemudian menyusun konstitusi baru.
Pada 14 April 2002, Xanana Gusmão terpilih sebagai presiden pertama Timor Leste, dan pada 20 Mei 2002, Timor Leste secara resmi merdeka sebagai Republik Demokratik Timor Leste (RDTL).***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI