Namun meski demikian masyarakat percaya bahwa ia merupakan orang sakti, bahkan ada yang mengira ia adalah salah satu wali.
Pada tahun 1870, wabah kolera melanda dan Eyang Jugo pada saat itu menjadi pahlawan bagi masyarakat, karena ia bisa menyembuhkan penyakit dengan cara memberi air yang diberi doa.
Ia banyak berperan dalam kehidupan masyarakat hingga akhir hayatnya. Sebelum meninggal ia berpesan jika suatu saat menghadap sang kuasa ia berpesan agar ia dimakamkan di sebuah bukit di Gunung Kawi.
Permintaannya tersebut dituruti dan hingga kini makam Eyang Jugo di bukit di Gunung Kawi tersebut selalu ramai oleh peziarah.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!