Bukti pendukung teori ini meliputi pemukiman Islam yang ditemukan di Baros, pantai barat Sumatera, sekitar tahun 674.
Para pedagang Arab yang menetap dan menikah dengan penduduk lokal diduga mempercepat penyebaran agama.
Teori ini juga menolak teori Gujarat dengan menunjukkan penggunaan gelar seperti Al-Malik oleh sultan-sultan Pasai, yang lebih sesuai dengan pengaruh dari Mesir dan Mekah, bukan Gujarat.
Baca Juga: Cuma 9 Ribuan! Mie Ayam Bu Yanti di Jember Porsi Jumbo Satu Mangkok Bisa Sharing Lho, Lokasinya…
Selain itu, mazhab Syafi'i yang dianut di Pasai mendukung pengaruh Mekah, mengingat Gujarat lebih cenderung menganut mazhab Hanafi.
3. Teori Persia
Didukung oleh Husein Jayadiningrat dan Umar Amir Hussain, teori ini menyatakan bahwa Islam diperkenalkan ke Indonesia oleh pedagang Persia pada abad ke-13.
Nusantara dianggap sebagai bagian dari wilayah dakwah dan perdagangan Persia pada masa lalu.
Bukti untuk teori ini termasuk upacara tabot di Bengkulu dan Sumatera Barat, yang memperingati Asyura dan mirip dengan ritual Persia.
Selain itu, tradisi perayaan Maulid Nabi di Sulawesi Selatan juga menunjukkan adanya pengaruh Persia dalam budaya Islam Indonesia.
Ketiga teori ini memberikan wawasan yang berbeda tentang bagaimana Islam menyebar ke Indonesia, masing-masing dengan bukti dan argumen yang mendukung pandangannya.
Walaupun terdapat perbedaan, semua teori mengakui bahwa kedatangan Islam ke Nusantara melibatkan berbagai jalur dan pengaruh budaya yang kompleks.***