Karolus Wiryoguno pun memutuskan untuk melakukan perjalanan ke daerah Ngoro demi mengejar ilmu musqab gaib di sebuah desa di wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Saat mengejar ilmu musqab gaib, Karolus Wiryoguno berjumpa dengan Coenraad Laurens Coolen, seorang lelaki peranakan Rusia-Belanda-Jawa yang merintis komunitas Kristen pertama di Jawa Timur sejak tahun 1827.
Bermula dari pertemuan tersebut, Karolus Wiryoguno mulai memiliki ketertarikan untuk memperdalam ilmu Nasrani.
Singkat cerita, ketertarikan Karolus Wiryoguno pada agama Nasrani bertambah, ketika ia mengetahui cara pengajaran Coolen yang kerap memadukan Injil dengan kearifan lokal seperti wayang, tembang Jawa, atau legenda setempat yang dipercayai oleh masyarakat Jawa.
Selama dua tahun menyelam ajaran agama Kristen, pada akhirnya Karolus Wiryoguno membuang segala ilmu kebatinan yang telah bersamanya sejak lahir dan masuk ke dalam agama Kristen.
Baca Juga: 4 Amalan agar Didatangi Rezeki yang Berkah dari Syekh Ali Jaber, Nomor 2 Lakukan Sebelum Adzan Subuh
Karolus Wiryoguno menerima sakramen baptis dari Pendeta Van Meyer pada tahun 1844 ketika dirinya berumur 35 tahun.
Kepindahan agama Karolus Wiryoguno, nyatanya tidak disambut baik oleh keluarga dan orang sekitarnya, hingga pada akhirnya ia berencana mendirikan desa sendiri dengan membabat sebuah hutan bernama Keracil di Ngoro.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Residen Surabaya, P.J.B de Perez terkait pembatatan dan pembangunan desa di Hutan Keracil, Karolus Wiryoguno bekerjasama dengan Abisai Ditotruno membangun desa tersebut.
Abisai Ditotruno diketahui merupakan teman yang telah Wiryoguno kenal sedari perjalanannya pertama kali mengunjungi Desa Ngoro.
Singkat cerita, desa perdana di Hutan Keracil telah usai dibangun dan diberikan nama ‘Mojowarno’ oleh Wiryoguno dan Ditotruno.
Seiring berkembangnya Desa Mojorwarno, dibangun juga Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) yang mengusung konsep arsitektur Eropa.