Dalam meditasi mendalam, Prabu Kuda Lalean menerima wahyu tentang mengubah Kujang dari alat pertanian menjadi senjata dengan bentuk menyerupai pulau Jawa.
Bentuk ini melambangkan keinginannya untuk menyatukan kerajaan-kerajaan di tanah Jawa menjadi satu kekuatan besar.
Untuk mewujudkan visinya, Prabu Kuda Lalean memerintahkan seorang pandai besi kerajaan untuk menciptakan Kujang sesuai dengan gambaran spiritualnya.
Pandai besi tersebut melakukan meditasi untuk memahami desain yang diinginkan Prabu. Dengan sentuhan magis dan filosofi mendalam, Kujang menjadi pusaka yang sangat kuat.
Sejak saat itu, Kujang menjadi simbol kekuasaan dan kehebatan bagi raja dan bangsawan Sunda. Saat Prabu Siliwangi menggantikan kekuasaan, Kujang diperbarui.
Prabu Siliwangi menambahkan kekuatan magis pada Kujang dan menghias pegangan dengan ukiran kepala macan.
Ini dilakukannya sebagai penghormatan kepada Panglima Macan Putih, pendamping setianya yang melindungi Kerajaan Pajajaran dari musuh.
Hari ini, Kujang bukan hanya pusaka bersejarah tetapi juga simbol kebesaran dan kebijaksanaan Kerajaan Pajajaran.
Simbol ini bisa ditemukan di berbagai tempat di Pasundan, dari pusat kota hingga kantor pemerintahan, sebagai pengingat warisan yang sangat berharga ini.***